Sebagai salah satu karoseri terkemuka, Adi Putro seringkali menciptakan inovasi menarik dalam bus garapan mereka. Tahun 2023 lalu di ajang GIIAS, karoseri asal Malang meluncurkan seri model Jetbus 5, bertepatan dengan puncak perayaan 50 tahun Adi Putro berkarya dalam bidang body builder.
Adi Putro menjadi body builder bus yang cukup kawakan dalam industri otomotif di Indonesia. Sebelum era Jetbus 5, karoseri yang digawangi keluarga Jethrokusumo ini kerap merilis model bus ikonik yang juga populer.
Jetbus 5 adalah generasi terbaru yang merupakan kelanjutan dari seri Jetbus 3 yang mengalami revolusi besar-besaran. Seri terbaru ini menggunakan sasis Scania, Volvo dan Mercedes-Benz.
Kiprah Karoseri Adi Putro Menjadi Karoseri Bus Kenamaan
karoseri dengan nama resmi PT Adiputro Wirasejati ini merupakan body builder minibus seperti Mitsubishi Colt T120 hingga Carry Futura. Karoseri dengan logo kuda jingkrak ini piawai membangun body minim dempulan dengan istilah Full Pressed Body.
Kiprah Adiputro menggarap body bus diawali pada tahun 1994 ketika AdiPutro melakukan kerjasama dengan Pabrikan Bus ternama asal Jerman, Mercedes-Benz. Melalui kerjasama ini, AdiPutro mengirim tenaga ahli terbaiknya ke Stuttgart, Jerman untuk belajar mengenai proses pembuatan body dan perakitan yang berstandar internasional.
Sebelum kiprah Jetbus 5, Adiputro telah merilis beraneka model seperti Tourismo, Travego, Setra, Marcopolo, Neoplan, Tourismo, Van Hool, dan beberapa custom sesuai request.
Varian Bus di Jetbus 5 Adi Putro
Karoseri Adi Putro membangun beberapa varian Jetbus 5 seperti tronton single deck, bus double decker, dan juga sleeper bus. Adapun seri Jetbus 5 tersebut adalah Jetbus 5 SDD (Double Decker), Jetbus 5 SHD Single Glass, Jetbus 5 SHD Double Glass, Jetbus 5 MHD Single Glass, Jetbus 5 Dream Coach, dan Jetbus 5 MD.
Berikut ini spesifikasi masing-masing varian tersebut:
Bus High Deck (HD)
Body bus HD atau high deck merupakan varian pertama dari model body bus dengan dek tinggi. Dimensi bus HD memiliki tinggi 3,4-3,7 meter.
Kaca depan biasnya masih single glass alias kaca tunggal.
Jika dilihat dari luar tampak seperti bus pada umumnya. Namun jika dilihat dari dalam, posisi supir lebih rendah dari kursi penumpang.
Bus Super High Deck (SHD)
Bus SHD itu singkatan dari Super High Deck. Ciri khas SHD lawas yaitu ada sekat kaca depan atau bando dimana pada seri SHD lebih tebal.
Kaca jendelanya pun cukup tinggi, sehingga dengan kaca yang luas ini para penumpang jadi punya pandangan sangat luas ke arah jalan. Selain itu, posisi duduk penumpang juga jauh lebih tinggi dibanding pengemudi.
Bus SHD juga dibekali dengan empat wiper, pada panel kaca bawah sebagai kaca utama bagi pandangan sopir. Sepasang wiper lainnya ada di panel kaca depan sisi atas bagian penumpang, dimana pivotnya berada di atas topi atau bando sekat kaca atas dan bawah.
Bagasi bus SHD pun luas karena mempunyai deck yang super tinggi, dimana varian SHD ini mencapai ketinggian antara 3,8 sampai 3,85 meter membuat bus SHD mampu menyediakan ruang bagasi yang sangat lapang.
Dengan sasis space frame, membuat bagasinya memungkinkan dapat dimasukkan 5 sepeda motor kedalamnya.
Pada jarak kaca belakang dengan lubang sirkulasi mesin pada bus SHD cukup lebar. Dek yang super tinggi ditambah dengan kualitas peredaman juga membuat bus lebih kedap dari kebisingan suara mesin.
Bus Medium High Deck (MHD)/ High Deck Double Glass (HDD)
HDD adalah singkatan dari High Deck Double Glass. Jelas sekali dari arti singkatan HDD kalau bus ini juga punya kaca depan yang terbagi dua bagian juga (double glass). Pada dasarnya seri HDD mengambil konsep desain dari tipe SHD namun dengan dimensi bus yang tidak menjulang tinggi.
Secara dimensi, ketinggian bus HDD hanya 3,7m atau setara dengan model Bus HD (High Deck) sebelum ada trend kaca ganda (double glass). Sehingga tipe Bus HDD menjadi opsi bagi konsumen yang ingin bus berdimensi standar, tapi tetap punya kaca ganda.
Ada sedikit perbedaan yaitu tipe HDD ini punya sedikit lebih rendah dari SHD, HDD ini mempunyai ketinggian 3.770 mm, beda sedikit sih dengan SHD yang tingginya 3.820 mm.
Bila diperhatikan lebih detail lagi, sekat kaca (topi) tipe HDD juga lebih tipis dari SHD. Kemudian untuk posisi pivot wiper kaca atas varian HDD juga hanya satu dan posisinya ada di bagian paling atas alias wiper gantung.
Perbedaan fisik yang terlihat dari seri Jetbus HDD dan SHD secara tinggi, kedua tipe ini hanya memiliki selisih sebanyak 15 cm. Perbedaan ini memang cukup signifikan, tetapi jika dilihat dari jauh tidak terlalu ketara.
Kemudian, jika dilihat dari samping maka ukuran fender yang ada di atas roda depan akan berbeda. Ukuran fender SHD lebih tinggi dibanding dengan HDD, begitu juga dengan ukuran pintu bagasi yang lebih besar.
Terakhir yang bisa dilihat untuk membedakan keduanya adalah jumlah kisi-kisi pada bagian belakang bus, tepatnya kap mesin. Karena SHD lebih tinggi, jumlah kisi-kisinya lebih banyak, ada lima garis, sedangkan HDD hanya empat.
Bus Ultra High Deck (UHD)
Jenis bus UHD merupakan kombinasi antara tipe bus Double Decker dan Super High Decker (SHD). Tingginya sekitar empat meter. Begitu masuk ke dalam bus, akan terlihat sekat antara kabin pengemudi, awak bus, dan penumpang.
Pada bagian bawah, khusus digunakan sebagai ruang kargo atau bagasi ekstra luas. Dengan begini, perusahaan otobus dapat memanfaatkan bagasi ini untuk angkutan barang atau semacam ekspedisi dalam semalam. Mulai dari barang berukuran besar sampai sepeda motor bisa masuk ke bagasi bawah.
Sementara itu, penumpang seluruhnya ada di dek atas. Karena dimensi panjang bus UHD mencapai 13,5 meter maka kapasitas kursi untuk kelas eksekutif bisa mencapai 36 tempat duduk. Untuk toilet biasanya berada di dek bawah, bersebelahan dengan ruang kargo.
Desain Jetbus 5 Mengedepankan Gaya Futuristik dan Premium
Model bus terbaru garapan Adiputro ini terasa lebih modern dan lapang di bagian kabin. Di Jetbus 5 ini, banyak perubahan dibagian lampu, begitu juga kontur, dan interior.
Desain bus generasi keempat era Jetbus series ini menonjolkan kesan futuristik. Bisa kita lihat pada sisi depan memakai LED yang membentang dari sisi kiri hingga kanan fascia. Kemudian, headlamp ada di sisi bumper yang agak ke bawah.
Sistem pencahayaan di Jetbus 5 sudah memakai LED projector. Selanjutnya masih pada housing headlamp terdapat lampu sein dengan model C shape. Melihat penampilan bus garapan Adi Putro tersebut, mengingatkan akan desain Hyundai Stargazer.
Menariknya, Jetbus 5 seri SHD juga hadir tanpa bando yang selama hampir 10 tahun terakhir begitu hits. Bus tersebut kini memakai kaca depan single dengan ukuran yang sangat besar.
Sementara itu pada sisi samping, tak ada lagi aksen garnish selendang yang melintang di kaca samping. Kini, garnish yang ada berbentuk bumerang dan desainnya minimalis. Tak lupa, desain spion tanduk ikut berubah dengan lampu LED bermotif diagonal.
Kemudian pada bagian belakang, desain stop lamp ikut berubah. Sepintas mirip era Jetbus 3 Voyager tapi kini taillamp lebih ramping. Desain LED bar di lampu belakang ini berbentuk huruf U bila lampunya menyala. Kemudian untuk peletakkan plat nomor ada di kap mesin belakang, dan pada bagian bumper belakangnya terdapat garnish silver.
Desain kaca belakangnya berbentuk seperti potongan diamond, dengan garnish silver bertuliskan Adi Putro. Konsep serupa dulu pernah dipakai pada era Jetbus generasi pertama.
Desain Baru Bando di Tipe SHD Double Glass Tidak Menghalangi Pandangan
Kelemahan dari desain bus tipe Super High Deck garapan Adiputro di seri Jetbus 2 dan 3 Voyager ialah pada posisi panel ‘bando’ pemisah kaca depan sisi atas dan bawah. Bando tersebut dulu ukurannya cukup besar dan posisinya tepat berada di depan mata penumpang depan.
Jelas ini menggangu kenyamanan penumpang dari sisi visibilitas selama di perjalanan. Pada seri Jetbus 5 kali ini, Adiputro merevisi desain bando tadi jadi lebih proporsional.
Posisi bandonya lebih turun ke bawah dan desainnya melengkung. Desainnya juga lebih ramping dan minimalis. Dampaknya tentu pada visibilitas penumpang depan yang leluasa melihat jalanan.
(YS)
(YS)






