Scroll untuk baca artikel
Serba Serbi

Istana Sisingamangaraja di Bakkara, Tetap Berdiri Meski Pernah Dibakar

7
×

Istana Sisingamangaraja di Bakkara, Tetap Berdiri Meski Pernah Dibakar

Share this article
istana-sisingamangaraja-di-bakkara,-tetap-berdiri-meski-pernah-dibakar
Istana Sisingamangaraja di Bakkara, Tetap Berdiri Meski Pernah Dibakar

02 April 2024 14.59 WIB • 2 menit

Istana Sisingamangaraja di Bakkara, Tetap Berdiri Meski Pernah Dibakar

info gambar utama

Akan selalu ada sisi historis dari setiap tempat. Terlebih jika tempat tersebut masih menyisakan peninggalan-peninggalan fisik seperti arca, perkakas, alat perang, hingga bangunan. Karena dengan peninggalan-peninggalan itu suatu cerita menjadi lebih mudah untuk dikenang.

Di suatu daerah yang lebih dikenal dengan istilah Bakkara juga demikian. Tepatnya, di Kecamatan Bakti Raja (Bakkara), Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara. Bakkara merupakan tempat penting bagi masyarakat suku Batak Toba. Di sana terlahir Raja Sisingamangaraja yang pada masanya dipercaya memiliki kesaktian yang diutus Tuhan ke Bumi.

Keturunannya yang ke-12 dengan gigih melawan penjajah Belanda hingga membuatnya mendapat gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1961. Salah satu peninggalannya ialah istana.

Situasi Berat Umat Kristen pada Masa Jepang, Gereja Disegel hingga Pendeta Diburu

Istana Sisingamangaraja

Berada di Desa Lumban Raja, Desa Simamora, Istana Sisingamangaraja berdiri dengan luas 100 meter persegi. Di sanalah Sisingamangaraja XII membuat siasat untuk melawan Belanda. Dalam Istana terdiri dari 3 rumah Batak yang disebut Rumah Bolon, Sopo Bolon, dan Sopo Persaktian.

Dengan berbagai ornamen dan artefak, ternyata beberapa bagian Istana pernah dibakar pada saat kampanye penaklukan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda (1878)—sumber lain menyebutkan tahun pada 1883 kembali dihancurkan. Raja Sisingamangaraja tidak menyukai penindasan dan menolak tunduk terhadap perlawanan para penjajah. Itu sebabnya Belanda membuat perhitungan.

Sisingamangaraja tetap berjuang untuk melawan Belanda hingga akhirnya gugur pada 17 Juni 1907 di Desa Onom Hudon yang kini berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi.

Sementara itu, Istana menyisakan beberapa peninggalan sejarah seperti makam para raja Dinasti Sisingamangaraja I-XI. Sedangkan Sisingamangaraja XII dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Balige.

Renovasi baru dilakukan oleh pemerintah setempat dan warga setelah Indonesia merdeka (1978).

Wafatnya Sisingamangaraja XII pun menjadi akhir dari kesaktian dinasti, atau tidak ada lagi gelar Sisingamangaraja. Sebab gelar tersebut hanya diperuntukkan bagi raja yang memiliki kesaktian. Adapun keturunan selanjutnya hanya disebut generasi XIII, IX, XV, dan seterusnya.

Ini 3 Gereja Ikonik di Jawa Timur dengan Arsitektur Khas

Kisah Sisingamangaraja

Marga Sinambela di kampung Bakkara memiliki jasa dalam menyatukan negeri Batak. Berdasarkan kisah yang dipercaya oleh masyarakat, masyarakat Batak yang mulanya terpisah dan penuh kekacauan, bahkan jauh dari ajaran Mulajadi Nabolon (Tuhan dalam mitologi Batak), akhirnya disatukan oleh Sisingamangaraja I.

Seorang suami dari keluarga Sinambela bernama Bona Ni Onan selalu berpergian jauh karena diperintah Mulajadi Nabolon. Sedangkan istrinya, Boru Pasaribu tetap di Bakkara. Ia menginginkan seorang anak, untuk itu dirinya pergi bertapa ke sebuah gua di Tombak Sulusulu.

Doa terkabul, di gua itu pula terlahir seorang anak laki-laki yang disambut dengan gempa bumi. Ialah Sisingamangaraja I yang dari kecil sudah diyakini akan menjadi raja karena memiliki sifat/kekuatan yang diberkati Tuhan.

Jejak Lain Sisingamangaraja

Sisingamangaraja memiliki banyak kesaktian seperti dapat menyembuhkan orang sakit dan menurunkan hujan. Ada pula mata air yang dipercaya menjadi salah satu kesaktian juga mampu menyembuhkan segala penyakit. Mata air tersebut dinamakan Aek Sipangolu.

Dulunya, air itu muncul saat Sisingamangaraja mengentakkan tongkatnya ke tanah. Hal itu dikarenakan gajah putih yang ditumpanginya kehausan saat mereka melintasi wilayah Bakkara.

Dari istana, hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit saja. Lokasinya ada di Desa Simangulampe. Adapun wujud mata airnya meluncur deras dari perbukitan atas yang tinggi. Karena dianggap keramat, maka pengunjung yang datang wajib melepas alas kaki saat ke sana.

Mengenal Ismail Marzuki, Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Referensi:

  • https://nationalgeographic.grid.id/read/133968120/bakkara-tempat-asal-dinasti-sisingamangaraja-di-tanah-batak-toba?page=all
  • https://www.bpodt.id/napak-tilas-perjuangan-sisingamangaraja-di-bakkara-2/

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tim Editor arrow

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *