Scroll untuk baca artikel
Serba Serbi

Menuju Musim Haji, Industri Batik Berpotensi Rebut Pasar Seragam Haji

7
×

Menuju Musim Haji, Industri Batik Berpotensi Rebut Pasar Seragam Haji

Share this article
menuju-musim-haji,-industri-batik-berpotensi-rebut-pasar-seragam-haji
Menuju Musim Haji, Industri Batik Berpotensi Rebut Pasar Seragam Haji

02 April 2024 16.00 WIB • 1 menit

Menuju Musim Haji, Industri Batik Berpotensi Rebut Pasar Seragam Haji

info gambar utama

Jemaah haji Indonesia dikenal dengan ciri khas penggunaan seragam batik, yang bertujuan untuk mempermudah identifikasi grup rombongan saat keberangkatan.

Terkait hal ini, Kementerian Perindustrian menggalakkan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) batik untuk mengambil peluang pasar, terutama di pasar batik untuk kebutuhan jamaah haji.

Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki banyak jemaah haji. Data dari Kementerian Agama (Kemenag) untuk musim haji 2024 mencatat bahwa terdapat 241.000 orang jemaah haji dari Indonesia.

“Tentunya, penggunaan seragam batik tersebut merupakan potensi pasar yang dapat dimaksimalkan oleh para pelaku IKM batik,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita di Jakarta, Selasa (2/4).

Ketahui Soal Haji Plus: Syarat, Cara Daftar, dan Memilih Travel Haji

Motif batik khusus

Pada musim haji tahun ini, Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pelayanan Haji dan Umroh (Ditjen PHU) telah menetapkan motif batik haji untuk jemaah Indonesia. Motif ini dipilih dari pemenang lomba desain motif batik jemaah haji Indonesia yang diadakan pada bulan Agustus 2023, yang dimenangkan oleh Sony Adi Nugroho dengan motif batik Sekar Arum Sari.

Motif kain batik ini didominasi oleh warna ungu dengan tambahan gambar siluet lambang burung Garuda. Batik ini akan menjadi wajib bagi para jemaah haji asal Indonesia melalui penyedia jasa layanan haji.

Dengan upaya ini, irektur Jenderal Industri Kerajinan dan Mode Asosiasi (Dirjen IKMA) menyampaikan apresiasinya terhadap langkah yang diambil oleh Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pelayanan Haji dan Umroh (Ditjen PHU) dalam melestarikan penggunaan kain batik asli, bukan kain batik printing, bagi jemaah haji Indonesia.

“Tentunya kami berharap ini merupakan awal yang baik dan menjadi langkah strategis ke depan dalam memberdayakan pelaku industri batik dalam negeri, serta menjadikan para jemaah haji kita sebagai duta promosi kain batik asli Indonesia,” paparnya.

Di tahun 2024, pihaknya mendukung kebijakan tersebut dengan memberikan fasilitasi dan pengawasan proses sertifikasi Batikmark dan sertifikasi halal kepada para IKM batik yang belum memiliki kelengkapan atau sedang dalam proses sertifikasi tersebut. Hal ini bertujuan untuk mendukung IKM dalam memberikan jaminan kualitas bagi konsumen haji.

“Dengan potensi pasar yang besar, pelaku IKM dapat terdorong untuk meningkatkan kualitas dan kapasitasnya dengan melengkapi legalitas, sertifikasi, dan workshop yang memadai,” tambahnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *