Scroll untuk baca artikel
Berita

13 Tantangan Punya Mobil dan Motor Listrik di Indonesia, Menurut Pemilik

×

13 Tantangan Punya Mobil dan Motor Listrik di Indonesia, Menurut Pemilik

Share this article
13-tantangan-punya-mobil-dan-motor-listrik-di-indonesia,-menurut-pemilik
13 Tantangan Punya Mobil dan Motor Listrik di Indonesia, Menurut Pemilik

Mobil Listrik

 | 

JAKARTA – Populix menanyakan para pemilik mobil listrik dan sepeda motor listrik terkait tantangan dalam menggunakannya dalam aktivitas sehari-hari. Bagaimana hasilnya?

Populix, perusahaan penyedia data dan layanan riset, pada 15-25 Maret 2024 kemarin melakukan survei secara online (daring) kepada 350 pemilik kendaraan listrik berusia 17-45 tahun yang berdomisili di Jakarta.

Mereka, menurut keterangan resmi Populix baru-baru ini, berjenis kelamin laki-laki serta perempuan yang yang menjadi pengambil keputusan dalam memilih merek maupun model kendaraan listrik yang dipakai.

Pertanyaan-pertanyaan dikemas dalam bentuk kuesioner dengan format pilihan ganda tunggal, pilihan ganda kompleks, skala likert, dan jawaban singkat. Salah satu topik survei Populix ialah tantangan dalam memiliki dan mengendarai mobil listrik dan mobil listrik.

Populix

Hasilnya, kesulitan terbesar dalam menggunakan mobil listrik atau pun motor listrik di Indonesia masih sangat berhubungan dengan kemampuan baterai serta ketersediaan infrastruktur.

Sebanyak 65 persen responden menyatakan tantangan menggunakan kendaraan listrik di Indonesia ialah kekhawatiran terhadap sisa baterai selama perjalanan.

Tantangan terbesar kedua dan ketiga ialah kapasitas jarak tempuh terbatas (61 persen responden) dan keterbatasan bengkel yang mau menerima perbaikan meskipun kerusakannya non-listrik (49 persen).

Tantangan-tantangan lain setelah itu menurut para pemilik kendaraan listrik ialah infrastruktur/fasilitas pengisian daya terbatas (43 persen), lokasi stasiun pengisian daya masih sedikit dan jauh (42 persen), harga lebih mahal dari kendaraan konvensional (33 persen), akses kendaraan listrik terbatas area (27 persen), jenis dan model kendaraan listrik terbatas (26 persen), waktu tunggu layanan lebih lama (23 persen), baterai bengkak atau bocor (22 persen), suspensi kaku (18 persen), baterai sering kali perlu diganti baru (13 persen), lalu kesulitan dalam pengurusan STNK (7 persen).

motor listrik Alva

Mengacu pada hasil riset tersebut, Chief Executive Officer and Co-Founder Populix Timothy Astandu pun menilai kalau kolaborasi antara regulator dan produsen kendaraan listrik menjadi semakin krusial, seiring dengan perkembangan pasarnya yang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Tantangan-tantangan yang hadir di hadapan para pemiliknya pun masih terbilang mendasar seperti aksesibilitas, jarak tempuh, biaya, sampai ketersediaan infrastruktur pengisian daya.

“Dengan memahami tantangan dan preferensi konsumen, sinergi ini menjadi kunci untuk mendorong adopsi EV (electric vehicle/EV) secara lebih luas serta meningkatkan pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia,” tutup Timothy. [Xan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *