Bagi kamu yang tumbuh di dekade 90-an tentu tidak asing dengan sosok Honda GL Pro. Motor ini jadi produk sukses Honda dan jadi yang terlaris saat itu. Desain yang gagah, tenaga yang oke, suspensi empuk, dan mesin yang cukup irit jadi kombinasi yang pas untuk memikat para lelaki.
Honda GL Pro pertama kali hadir pada tahun 1985 bermesin 145 cc. Nama GL adalah kepanjangan dari Gin Linamoto yang merupakan kakek dari pendiri motor Honda yakni Soichiro Honda.
Linamoto merupakan samurai pada era 1876-1877 silam. Untuk mengenangnya, Soichiro Honda kemudian menggunakan nama Gin Linamoto (GL) dan dipakai pada mesin motor rakitannya.
Kita bakal dengan mudah mengenali sosok Honda GL Pro karena punya aksen desain serba kotak. Mulai dari headlamp kotak, lampu rem kotak, lampu sein depan belakang bentuknya kotak, sampai bentuk frame speedometer juga kotak.
GL Pro generasi pertama diproduksi hingga tahun 1991. Motor ini terkenal dengan julukan White Engine karena blok mesinnya yang berwarna silver cerah dan dari kejauhan seperti warna putih.
Untuk mengenang dan bernostalgia, berikut ini kami sajikan sejumlah fakta menarik dari Honda GL Pro yang ada di Indonesia. Simak ulasannya sebagai berikut.
1. Ada Tiga Generasi, Dan Punya Satu Varian Istimewa
Secara garis besar, ada tiga model GL Pro yang pernah diluncurkan Honda ke Tanah Air. Model pertama adalah GL Pro White Engine yang meluncur pada tahun 1985 dengan kapasitas mesin 145cc. Kemudian, generasi White Engine digantikan oleh model GL Pro Black Engine yang dilepas pada tahun 1992. Dinamakan Black Engine karena motor ini mengusung mesin berwarna hitam.
Setelah kehadiran GL Pro Black Engine, Honda merilis model GL Pro Neo Tech pada tahun 1995 yang menjadi generasi penutup era GL Pro di tahun 1999. Honda resmi menyuntik mati motor ini pada tahun 1999 dan kemudian digantikan oleh Honda Mega Pro.
Banyak yang tidak tahu, GL Pro juga memiliki varian rare atau langka yang sempat muncul di antara white engine dan black engine. Saat itu sempat muncul varian purple engine tahun 1991, warna mesinnya agak keunguan metallic. Motor ini begitu istimewa, dan merupakan series terakhir yang asli Jepang.
2. GL Pro Gen 2 Black Engine, Impor Dari Jepang
Generasi tersukses GL Pro ada di generasi kedua yaitu GL Pro Black Engine yang meluncur pada tahun 1992. Sebutan Black Engine muncul karena motor ini mengusung mesin dengan blok dan crankcase berwarna hitam. Honda GL PRO Black Engine disebut masih banyak mengusung komponen mesin dari Honda Jepang
GL Pro Black Engine dalam beberapa waktu terakhir menjadi barang incaran para kolektor, sehingga harganya melambung tinggi. Motor ini juga diyakini memiliki mesin yang lebih tangguh karena sepenuhnya dirakit di Jepang.
3. Spesifikasi Mesin dengan Tenaga Besar Pada Masanya
Honda GL Pro memiliki potensi performa yang menjanjikan, karena masih satu basis platform dengan Honda Tiger (GL 200). Hal ini bisa dibuktikan pada GL Pro Neotech dengan kapasitas 160 cc serta GL Pro Black Engine.
Adapun Honda GL Pro Black Engine dibekali mesin berkubikasi 144,7 cc SOHC 2 klep Pendingin udara dengan Bore x Stroke 61 x 49,5 mm. Tenaga maksimalnya menurut brosur mencapai 16,5 ps pada 8.500 rpm, yang cukup besar untuk mesin 4-tak di bawah 150 cc di era 90-an.
Secara spesifikasi, GL Pro Neotech dibekali mesin OHC ubikasi 156,7 cc dengan bore x stroke 63,5 x 49,7 mm. GL Pro Neotech hanya tersedia dalam transmisi maal, 5-Speed.
Tenaga yang dihasilkan memang tak sebesar GL Pro Black Engine tapi lumayan besar, di angka 14,7 HP @ 8.500 rpm dengan torsi 12,75 Nm @ 6.500 rpm.
4. Terkenal Sebagai Ojek Pegunungan di Bromo
Soal keperkasaan rangka maupun mesin GL Pro masih begitu digdaya, dan jadi andalan para tukang ojek di kawasan Gunung Bromo. Cukup dengan membesar ukuran gear belakang saja, motor ini bisa dengan lincahnya mendaki jalan setapak di kawasan wisata Gunung Bromo.
Tak cuma digunakan membawa para wisatawan hingga ke puncak, tukang ojek di Bromo juga memakai GL Pro untuk ‘usung-usung’ motor pengunjung yang mengalami kerusakan saat menanjak. Cukup lumrah pemandangan Honda GL Pro mengangkut motor yang mengalami masalah di kawasan Bromo, dengan cara diikat di jok belakang pengendara.
GL Pro tidak mengalami kesulitan apapun dan tetap lincah, saat membelah lautan pasir. Di satu sisi lautan pasir Bromo dikenal licin dan kerap menyusahkan pengendara pemula.
Kondisi medan tanjakan panjang di kawasan Gunung Bromo kerap memakan korban motor. Penyakit utamanya adalah kampas kopling yang habis karena efek setengah kopling supaya kuat menanjak. Maka dari itu, kita bisa sering melihat banyak ojek yang siap mengevakuasi kendaraan para wisatawan.
Sementara itu, Honda GL series adalah motor yang diandalkan oleh masyarakat kawasan Bromo Tengger Semeru. Masyarakat setempat mengandalkan GL termasuk GL Pro sebagai motor operasional harian, mencari nafkah, dan yang pasti, motor yang punya beban berat.
5. Punya Fitur Air Suspension Asli, Seperti di Mobil dan Bus
Siapa sangka, Honda sudah menggunakan teknologi suspensi udara atau air suspension pada motornya di Indonesia, yang beredar di era 90an, yaitu Honda GL-Max dan GL-Pro. Suspensi udara diklaim bekerja jauh lebih baik saat meredam guncangan pada kendaraan diakibatkan permukaan jalan yang tak rata.
Ini bisa dibuktikan dengan label keterangan suspensi udara dan secara fisik juga ada punya ciri khusus dilengkapi nipel sebagai pengisian udara pada ujung as sokbreker depan.
Kita bisa melakukan penyetelan sesuai keinginan atau kebutuhan, dengan menambah tekanan anginnya dengan menggunakan kompresor bila ingin ayunan shockbreaker depan lebih keras. Hal yang harus diperhatikan, tekanan angin pada shockbreaker kanan dan kiri harus sama.
Namun demikian, suspensi udara di GL-Max dan GL-Pro sistemnya adalah semi air suspension. Ini karena suspensi kedua motor ini masih menggunakan per/pegas didalamnya, serta masih menggunakan oli sebagai peredam gerakan naik turun suspensi.
Tidak seperti di mobil yang memakai sistem full air suspension, hanya mengandalkan balon khusus dan tekanan udara untuk meredam guncangan.
6. Motor yang Gampang Dioprek dan Dirawat
Honda GL Pro punya value sebagai motor pekerja keras dengan torsi besar, nyaman, sparepart banyak, serta teknologi masih sederhana karena menggunakan karburator. Dengan demikian, perawatannya tak rumit dan bahkan bisa diperbaiki sendiri oleh pemiliknya.
Kita tidak perlu harus ke bengkel untuk diagnosa layaknya motor injeksi. Sebagai motor pekerja, kita hanya perlu sedikit modifikasi pada GL Pro bila ingin menyesuaikan dengan kondisi medan yang dilalui.
Bila digunakan sebagai motor pegunungan, maka kita hanya perlu mengganti gir belakang dengan ukuran yang lebih besar, serta ubahan di pilot jet/main jet karburator. Hanya dengan ubahan yang relatif sederhana, GL Pro karakternya bisa menghasilkan torsi yang galak.






