Scroll untuk baca artikel
Berita

6 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pengendara Motor Kopling, Terutama Pemula

×

6 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pengendara Motor Kopling, Terutama Pemula

Share this article
6-kesalahan-yang-sering-dilakukan-pengendara-motor-kopling,-terutama-pemula
6 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pengendara Motor Kopling, Terutama Pemula

Kesalahan pengguna motor kopling ternyata tidak hanya dilakukan oleh para pengendara pemula saja. Mereka yang sudah terbiasa juga kadang masih banyak melakukan kesalahan.

Tidak hanya berakibat pada pendeknya usia komponen kampas kopling, kesalahan dalam menggunakan kopling juga bisa membahayakan para pengendaranya.

Kampas kopling adalah komponen yang berfungsi untuk menghubungkan dan melepaskan putaran mesin dengan roda. Untuk mendapat distribusi tenaga yang cukup sesuai dengan kecepatannya, dibutuhkan tuas kopling sehingga pengendara bisa mengatur secara manual. 

Sebagaimana yang tercantumkan dalam buku petunjuk manual produk Sepeda Motor, dijelaskan untuk rata-rata interval pemakaian kampas kopling sekitar 15.000 – 20.000 Km. Jika kendaraan digunakan dalam pemakaian normal, usianya bisa sampai 2 tahun. Akan tetapi ada beberapa hal yang menjadikan kondisinya bisa lebih buruk dalam waktu lebih cepat. 

Berikut ini kebiasaan yang bisa mempersingkat usia pakai kampas kopling, akibat suka menarik tuas kopling tidak pada kondisi yang tepat. 

1. Jari Selalu di Tuas Kopling


Jari menempel di tuas kopling  seolah sudah menjadi hal lumrah yang dilakukan oleh pengendara motor manual. Padahal, jika hal itu terus dilakukan akan berdampak pada usia komponen kendaraan terutama kampas kopling yang cepat aus. 

Saat jari menempel pada tuas kopling, bisa menyebabkan kopling tidak menekan pressure plate secara penuh.  Hal ini menimbulkan terjadinya gesekan antara pelat kopling dan friction plate, kampas kopling yang selalu tergesek akan menghasilkan panas. Akibatnya, kampas kopling cepat aus dan terkikis. 

Padahal kampas kopling mempunyai peranan sangat vital, yaitu meneruskan daya dari mesin ke transmisi. Kalau kampas kopling aus, mesin bekerja keras tetapi motor tidak bisa lari. 

2. Rajin Menarik Tuas Kopling saat Berbelok atau Berhenti Lama

Kesalahan lain yang juga sering dilakukan oleh pengendara motor manual adalah saat berbelok atau menikung sambil menarik tuas kopling. Padahal, kebiasaan tersebut justru akan mengganggu keseimbangan dan laju kendaraan. 

Saat tuas kopling ditarik, maka tidak ada tenaga yang memutar roda, sehingga motor hanya bergerak dari sisa gaya dorong. Saat tuas kopling ditarik, dampaknya membuat proses menikung jadi kurang bertenaga dan lajunya kurang seimbang karena tidak ada daya dorong yang sesuai. 

Kebiasaan ini juga sering muncul ketika motor sedang berhenti melaju. Misalnya di lampu merah. Akibatnya, motor akan tersendat lagi ketika pengendara melanjutkan perjalanan tanpa menurunkan gigi persneling.

Sebaiknya, tuas kopling hanya digunakan pada saat motor melakukan perpindahan gigi atau pada saat berhenti sebentar jika posisi gigi tidak netral. 

3. Menarik Tuas Kopling Saat Mengerem atau di Turunan 


Menarik tuas kopling saat mengerem adalah kesalahan yang juga masih dilakukan para pengendara pemula dari motor manual. Mereka tak menyadari kalau menarik tuas kopling sambil mengerem saat motor melaju di kecepatan tinggi dapat membahayakan pengendara motor. 

Kebiasaan ini dapat membuat motor mudah meluncur tidak terkendali dan rem harus bekerja keras mengurangi laju kendaraan. Ini karena tidak ada gaya engine brake yang membantu proses pengereman. 

Engine brake adalah gaya yang dihasilkan oleh mesin saat gigi masih terhubung dengan roda. Jika kamu menarik tuas kopling saat mengerem di kecepatan tinggi, maka hubungan antara mesin dan roda terputus, sehingga gaya engine brake hilang.

Lebih parahnya lagi, soal kebiasaan menarik penuh tuas kopling saat turunan panjang. Ini juga bisa membuat kamu kehilangan kendali atas motor. Efeknya sama seperti menarik tuas kopling saat mengerem di kecepatan tinggi. Mengandalkan rem saja tidak cukup untuk menghentikan laju motor di jalan menurun.

Motor manual memiliki engine brake yang dapat digunakan untuk mengurangi kecepatan di jalan menurun. Kopling hanya perlu ditarik setengah dan hanya sesekali untuk mengimbangi putaran mesin dan laju motor. Jika Anda menggunakan engine brake, maka Anda dapat mengurangi beban pemakaian rem. 

4. Melakukan Engine Brake Berlebihan saat Menikung 


Saat menikung, motor butuh momentum gaya dorong yang proporsional agar tetap seimbang saat bermanuver atau posisinya miring. Agar tenaganya tidak berlebihan, sebagian pengendara lantas melakukan engine brake dengan menurunkan posisi gigi. 

Mengurangi gigi transmisi saat sedang berbelok juga menjadi kesalahan yang masih banyak dilakukan oleh pengendara motor manual. Semestinya, oper gigi dilakukan sebelum masuk tikungan. 

Saat menurunkan gigi sambil berbelok, akan membuat motor kehilangan kestabilannya. Soalnya waktu turun gigi, roda belakang motor berisiko seakan-akan selip dan akhirnya motor bisa melaju layaknya keluar jalur. 

5. Tidak Menurunkan Gigi Waktu Lewat Tanjakan dan Turunan

Pernah merasakan motor seakan ‘ngeden’ di tanjakan atau terlalu ngeloss saat di turunan? 

Ini salah masalah yang cukup sering dihadapi pemula yang baru saja lancar bawa motor manual. pengendara lupa menurunkan gigi saat melalui jalan menanjak atau turunan panjang. Misalnya saja sedang di gigi empat, terus digeber di posisi gigi tersebut saat motor sudah menanjak atau jalannya menurun. 

Akhirnya motor pun terasa berat di tanjakan. Oper gigi di tanjakan pun cukup riskan karena bisa kehilangan momentum tenaga yang mendorong kendaraan saat proses pindah gigi. Motor bakal agak ngeden walau akhirnya mungkin torsinya cukup untuk menanjak. 

Sementara itu pada saat menghadapi turunan, laju motor jadi makin liar kalau kita tidak memindahkan gigi ke posisi lebih rendah. Jadi jangan lupa untuk menurunkan gigi persneling waktu nanjak atau lewat turunan. Semakin curam tanjakan atau turunan, maka harus semakin rendah pula giginya.

6. Kebiasaan Setengah Kopling


Perilaku pengendara buruk berikutnya yang harus dihindari agar kampas kopling tidak cepat aus yakni tidak menarik tuas kopling secara penuh. Beberapa pengendara punya kebiasaan untuk melakukan setengah kopling. Alasannya lantaran agar mudah untuk masuk ke gigi berikutnya, atau mungkin ingin berkendara santai dalam keadaan putaran mesin yang agak tinggi.

Kalau memang ingin pindah ke gigi berikutnya, sebaiknya pengendara menekannya secara penuh tuas kopling tersebut. Tujuannya agar kampas kopling bisa memberikan celah sepenuhnya untuk perpindahan ke gear selanjutnya. 

Jika sudah pindah gigi, bisa langsung dilepaskan saja sepenuhnya tuas kopling itu. Setengah kopling masih diperbolehkan dalam beberapa kondisi yang dibutuhkan untuk menekan tuas kopling selama beberapa saat, misalnya stop and go di kemacetan yang harus tarik lepas tuas kopling.

Kesimpulan

Motor dengan transmisi manual yang memiliki tuas kopling biasanya hadir dari segmen motor sport, entah itu sport fairing, sport naked, atau bebek sport. Kehadiran transmisi manual menghasilkan performa berkendara yang responsif dan fleksibel, karena pengendara bisa mengatur posisi gigi yang lebih ideal sesuai kecepatan motor yang dikendarai.

Dengan menghindari kebiasaan buruk di atas, artinya bisa membuat usia pakai kampas kopling lebih lama dan motor tetap responsif saat berpacu dalam kecepatan tinggi. Masalah yang sering terjadi ketika kampas kopling sudah tidak normal yakni selip saat melakukan kopling, sehingga akselerasinya jadi ada delay.
(YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *