Buat kamu yang aktif di sosial media Tik Tok, barangkali gak asing sama Coquette. Tren fesyen ini banyak diunggah dengan berbagai gaya dan ekspresi yang bikin gemas.
Para perempuan bisa dikatakan memang mendominasi penggunaan tren Coquette ini. Dengan khas, mereka berdandan menggunakan dress berwarna merah muda, putih atau nuansa yang lembut. Rambut mereka biasanya digerai dengan jepit pita di bagian tengah yang bikin estetik.
Tapi jangan salah, tren Coquette ini sebenarnya tak terbatas untuk ekspresi gender perempuan. Tren ini terbuka buat ragam ekspresi gender dan seksualitas. Laki-laki maupun non-biner pun bisa turut merayakan keberdayaan dirinya dengan tren berpakaian Coquette ini.
Salah satu idol Korea yang tampak menikmati menggunakan Coquette ini seperti Wonbin dari Riize. Dalam sebuah show, dia mengenakan pakaian berwarna merah menyala bergaya renda yang manis. Luarannya itu dilengkapi dengan kaos hitam dengan hiasan simbol hati yang kerlap-kerlip.

Mengenal Tren Coquette
Dalam bahasa Perancis, Coquette berarti “anak perempuan yang centil dan genit”. Namun, dalam era sekarang tren Coquette sebenarnya telah berkembang lebih dari itu.
Tren Coquette identik dengan warna merah muda pastel, pakaian dengan gaya renda-renda, dan pita. Para penggunanya biasanya menggunakan ornamen-ornamen tersebut dalam berpakaiannya.
Sesuai namanya, tren Coquette adalah bentuk ekspresi hyperfemininity dalam berpakaian. Orang-orang biasanya menggunakan tren ini sebagai penyimbolan anak remaja yang menyukai merah muda dan feminin yang berlebih.
Ini dikarenakan di setiap tahun memiliki trennya masing-masing. Di tahun 2010-an, warganet banyak menggunakan tren Shabby Chic, yaitu tren mengoleksi atau berpakaian warna-warna yang mulai pudar atau lusuh yang berhiaskan bunga-bunga berwarna merah muda. Kemudian, pada 2020 kemarin tren Coquette mulai diramaikan hingga kini.
Baca juga: Tren Gyaru, Saat Perempuan di Jepang Mendobrak Standar Kecantikan
Sebenarnya, tren coquette ini dibagi dalam beberapa sub penampilan dan banyak yang mengharfiahkan dalam ke beberapa sub. Tetapi secara umum coquette terbagi dalam tiga sub.
Pertama, gaya Vintage Americana yang menggambarkan gaya berpakaian perempuan pada Amerika dulu. Dalam sub ini, memadukan warna merah dan putih sebagai warna palet utamanya, yang berkhaskan dress bermotif kotak-kotak.

Kemudian, Coquette Gloomy Dolette atau gaya klasik Coquette yang biasa banyak ditemukan dalam tampilannya. Sub ini banyak menggunakan warna cool tone atau warna-warna merah muda yang lebih pucat serta ornamen-ornamen “little girls” untuk menambah keestetikaan.

Terakhir, Coquette Ballet, yaitu gaya estetika balet diadopsi dalam tren ini. Selain itu, ada kaitannya dengan tari balet “Swan Lake” yang banyak menggunakan pita-pita atau angsa dalam penyimbolannya.

Coquette terkadang disamakan dengan sub tren Gyaru, yaitu Lolita. Dalam penampilannya sekilas sama, yaitu menggunakan warna merah muda dan ornamen pita. Namun, perbedaannya dari keduanya adalah ornamen yang digunakan, Lolita cenderung lebih meriah dalam berpakaian dan menggunakan makeup yang berlebih. Sementara, Coquette dalam berpenampilan secukupnya dan lebih menonjolkan warna merah muda yang pucat serta ornamen pita yang tidak berlebihan.

Di media sosial, tren coquette sebagian dirayakan sebagai tren menggemaskan atau sekadar lucu-lucuan. Hal ini seperti dalam setiap kegiatan seseorang harus mengikutsertakan simbol coquette yang identik dengan pita berwarna merah muda, seperti mengikat pita berwarna merah muda ke lengan, alat makan, atau benda-benda lainnya yang diiringi lagu-lagu dari Lana Del Rey.
Bahkan, beberapa dari lainnya membuat konsep suatu tempat umum menjadi nuansa Coquette. Selain itu, tren ini menjadi marak dengan individu yang menggunakan busana dengan nuansa Coquette.
Tren Coquette sebagai Ekspresi Diri Ragam Gender
Pemantik awalnya pada tahun 2010 di platform Tumblr yang mengunggah banyak tren Coquette. Dilansir dari Bare Magazine, pada zaman Victoria, tren Coquette sebelumnya adalah tren yang dinilai “mengkhawatirkan” di kalangan para laki-laki.
Pada saat itu, para pengguna tren Coquette umumnya memiliki pengetahuan gender yang luas dan terbuka. Di sisi lain, sangat terampil dalam pemilihan fesyen yang akan mereka gunakan. Selain diidentikkan sebagai sosok yang “menggoda” tetapi menakutkan di kalangan laki-laki, tren ini pun dianggap sebagai “alat tipu muslihat” dan sarana mengejek kaum laki-laki yang masih menganut perempuan hanya objek.
Coquette sebelumnya dihindari dan dibenci karena pengetahuan mengenai gender sangat terbuka. Sehingga laki-laki merasa takut akan terpinggirkan. Padahal, fesyen adalah sebagai bentuk ekspresi berbagai gender untuk berpakaian.
Itu seperti yang terjadi pada tren Coquette yang diadopsi ke pelbagai sub tren fesyen, salah satunya tren Lolita di Jepang. Pada saat itu kultur Jepang unsur budaya patriarkinya sangat kuat sehingga tren pemudaran Coquette ala Jepang (Lolita) digambarkan sebagai romansa percintaan antara gadis-gadis yang paling muda dalam merayu laki-laki yang lebih tua.
Baca juga: Tren Estetika Old Money Jadi Obsesi di Sosmed? Kenapa Gen Z Suka Ini
Setelah itu, tren Coquette banyak digunakan oleh perempuan dari berbagai kalangan dan sebagai menunjukkan identitas hyperfemiminity. Padahal mestinya tren ini tidak hanya perempuan saja, tren yang banyak menggunakan pita ini banyak digunakan oleh pria, non biner, transpuan, dan kalangan lainnya.
Namun, Coquette ini banyak yang mengira bahwa riasan pita dan merah muda adalah simbol perempuan, maka tidak sedikit yang mengatakan tren ini hanya untuk perempuan saja dan jika digunakan oleh selain perempuan dianggap kurang mengenakkan sebab sebagian besar masyarakat masih menganut bahwa semua perempuan adalah feminin.
Padahal salah besar jika tren-tren yang mengandung unsur merah muda hanya untuk kalangan perempuan saja. Tetapi tran fesyen adalah untuk beragam ekspresi gender dan seksualitas.
Seiring waktu, tren Coquette ini juga bisa makin inklusif termasuk soal standar kecantikan. Pada awalnya trennya notabene diikuti oleh perempuan yang memiliki kulit putih dan berbadan kurus, yang kemudian diikuti oleh pelbagai kalangan, seperti keberagaman ras, warna, dan bentuk tubuh.
Meskipun tak dipungkiri, slogan “Women support women” di sosial media terkait tren Coquette ini juga masih mengalami banyak tantangan. Sebab, belum semuanya memiliki perspektif yang ramah gender. Bahkan, ada juga yang seksis dan misoginis.
Hal ini bisa dilihat di TikTok kala perempuan dengan kulit atau dengan berbadan yang berisi dipenuhi oleh hujatan-hujatan, mengatakan bahwa tren itu bukanlah milik mereka. Akan tetapi, jika laki-laki yang menggunakan tren Coquette sebagai hal lucu-lucuan dipenuhi komentar yang positif.
Padahal seperti halnya tren-tren fesyen yang sedang marak akhir-akhir ini seperti tren Skena, Indie Kid, Gyaru, dan lainnya, semestinya ini dirayakan. Tak lain, sebagai ruang berekspresi dan pemberdayaan diri.
Tren fesyen adalah milik kita semua. Apapun ragam gender dan seksualitasmu, kamu berhak merayakan tren fesyen yang cocok dan nyaman buatmu.
(Sumber Gambar: IG Jennie Blackpink)




