Film Civil War tidak lama tayang di Indonesia. Bisa jadi beberapa hari lagi akan turun layar. Padahal, film ini menyajikan cerita yang inspiratif, terutama bagi jurnalis perempuan.
Civil War membuktikan bahwa jurnalis perempuan bisa tangguh, berani, dan cekatan di medan perang. Mereka dapat diserang sewaktu-waktu, baik sebagai jurnalis maupun perempuan. Mereka juga rentan dilecehkan saat sedang tugas.
Semua ini bermuara pada satu kalimat: “tidak ada berita seharga nyawa”. Artinya, perusahaan media harus melindungi jurnalis perempuan dari segala ancaman saat bekerja. Misalnya dengan memberikan pelatihan, jaminan keselamatan dan asuransi, serta perlindungan dari segala bentuk kekerasan.
Jika dibiarkan, peristiwa-peristiwa seperti meliput perang ini akan menyebabkan trauma berkepanjangan bagi jurnalis. Oleh karena itu, perlu pendampingan psikologis bagi jurnalis perempuan, khususnya yang terjun di daerah perang atau konflik, agar tidak mengalami secondary trauma.
Film “Civil War” diawali dengan perang sipil sedang terjadi di Amerika Serikat. Semua tampak kacau. Asap, api, darah, dan mayat di mana-mana. Seluruh tentara berkalung senapan, siaga menembak lawan kapan saja. Para jurnalis sibuk mengambil gambar di balik mobil dan tentara di depannya.
Terkadang mereka perlu selangkah lebih maju untuk menangkap momen berharga. Foto tersebut dikirimkan ke media–dan orang tersayang–sebagai laporan kondisi terkini, serta membuktikan bahwa mereka masih dalam kondisi hidup. Dalam situasi seperti ini, mati adalah keniscayaan, sedangkan hidup adalah keberuntungan.
Civil War disutradarai oleh Alex Garland, ia memperlihatkan distopia potensi perpecahan Amerika Serikat lewat lensa para jurnalis. Sebuah pendekatan yang unik dengan foto-foto yang ikut menghidupkan cerita.
Memang tidak dijelaskan secara detail kapan terjadinya perang tersebut dan apa motivasi Garland membuat film Civil War. Yang jelas, film ini diluncurkan di tahun pemilu Amerika Serikat. Dalam Civil War, perang terjadi saat periode ketiga seorang presiden tengah berjalan.
Tentang ‘Civil War’
Terlepas dari segala konspirasinya, Garland ingin memperlihatkan setiap potret yang diambil oleh dua jurnalis perempuan. Mereka yaitu Lee Smith (Kirsten Dunst) dan Jessie (Cailee Spaeny).
Jarak usia dan pengalaman mereka berdua sangatlah jauh. Lee Smith seorang jurnalis fotografi profesional, sementara Jessie adalah fotografer muda.
Jessie bertemu dengan Lee Smith saat sedang memotret di salah satu lokasi perang di Amerika Serikat. Jessie merasa berhutang budi dengan Lee Smith yang menolongnya dari pukulan aparat dan ledakan bom. Ia pun mendatangi penginapan Smith untuk berterima kasih sekaligus mengembalikan rompi jurnalisnya.
Baca juga: ‘The Ghost Station’: Kisah Jurnalis Bongkar Misteri Stasiun Terbengkalai
Rupanya Jessie memiliki maksud yang lain. Setelah bertemu dengan Lee Smith, ia mengobrol dengan Joel (Wagner Moura), jurnalis dari Reuters dan Sammy (Stephen McKinley), jurnalis senior dari New York Times. Tidak disangka, Jessie meminta kepada mereka untuk bergabung dalam perjalanan menuju ke Washington DC.
Awalnya, Lee Smith tidak mengizinkan Jessie ikut. Alasannya karena Jessie dianggap belum cukup umur dan belum berpengalaman meliput di medan perang. Namun, Joel berusaha meyakinkan Lee Smith bahwa semua akan baik-baik saja. Lambat laun Lee Smith pun luluh dan justru berbalik mengajari Jessie untuk tangguh.
Gisèle Freund, fotografer perempuan asal Perancis pernah berkata, “tidak ada subjek yang mati setelah dipotret”. Kalimat inilah yang menjadi pengantar bagi penonton untuk menikmati film Civil War. Sekalipun Smith dan Jessie mengambil foto orang yang mati, foto tersebut tetap memiliki ceritanya tersendiri.
Jurnalis Perempuan dalam Pusaran Konflik
Lee Smith dan Joel bersikeras untuk menuju ke Washington DC meski telah diperingatkan oleh Sammy. Mereka ingin mendengarkan pernyataan langsung dari Presiden Amerika Serikat–untuk yang terakhir kalinya. Mereka tidak ingin melewatkan kesempatan itu.
Di saat semua media meliput perang, mereka ingin mendapatkan informasi dari sisi presiden, orang yang seharusnya bertanggung jawab atas segala perpecahan ini. Alih-alih terjun langsung atau mengadakan perundingan, presiden justru diam dan bersembunyi dibalik gedung megah di Washington DC.
Hal ini membuat Lee Smith geram, begitupun Joel. Sammy telah memperingatkan bahwa penjagaan di gedung putih sangat ketat. Sangat mustahil bagi jurnalis yang hanya bersenjatakan kamera untuk menembus itu. Namun, Lee Smith dan Joel yakin, mereka bisa mendapatkan informasi yang sangat dinantikan oleh masyarakat.
Baca juga: Riset AJI: Tak Ada SOP Khusus Bagi Jurnalis Perempuan Saat Liputan Berisiko
Mereka memulai perjalanan ke Washington DC yang berjarak lebih dari 1.000 mil dari tempatnya berada. Smith, Joel, dan Sammy tampak terbiasa menikmati perjalanan yang menegangkan itu, lain halnya dengan Jessie.
Matanya menunjukkan ketakutan. Sebagai fotografer muda nihil pengalaman, meliput perang, hanya tekad kuat ingin menjadi seperti Smith yang ia pegang. Joel terus meyakinkan Jessie untuk berani dan tangguh. Ia dengan sigap menarik rompi Jessie setiap kali ada ancaman dari lawan.
Melawan Ketakutan Dalam Peperangan
Bagaimana jika semua yang telah dilalui–ancaman maut–hanya untuk menunjukkan eksistensi diri? Sebuah perenungan Lee Smith di malam hari sembari melihat ke arah bom-bom itu diledakkan. Ia menghabiskan malam dengan berbincang bersama Sammy. Setidaknya, jurnalis senior New York Times itu selalu memberikan wejangan kepada Smith.
Melihat mayat tergeletak sepanjang jalan bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Kengerian itu pasti ada. Kita juga tidak pernah tahu kapan hidup akan berakhir. Apakah saat sedang meliput, di perjalanan, atau malah di penginapan?
Pada dasarnya, perang akan merenggut sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita. Perempuan, anak, lansia, dan disabilitas menjadi kelompok yang paling dirugikan dalam setiap peperangan. Semua terangkum dalam satu tayangan Civil War.
Sumber foto: Tix.id




