Teknik Cold Chain untuk Menguatkan Distribusi Logistik Pangan di Indonesia
Pendahuluan
Pada seminar “Peran Teknologi dan Perusahaan Start-up Pada Keandalan Logistik Pangan” yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Pelaku Logistik Indonesia (PPLI) di Jakarta, dibahas mengenai pentingnya penyimpanan pendingin (cold chain) dalam distribusi logistik pangan di Indonesia.
Pengembangan Sarana Prasarana Cold Chain
Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah menyatakan komitmennya untuk memperkuat distribusi logistik pangan di seluruh wilayah Indonesia melalui pengembangan sarana prasarana cold chain. Hal ini bertujuan untuk menjaga keamanan dan kualitas pangan yang didistribusikan.
Keunikan Indonesia sebagai Negara Kepulauan
Indonesia memiliki keunikan sebagai negara kepulauan, sehingga distribusi logistik pangan menjadi lebih kompleks. Arief Prasetyo Adi, Kepala Bapanas, menjelaskan bahwa meskipun Indonesia baru memulai pengembangan cold chain, hal ini perlu dilakukan dengan cepat. Ia mencontohkan bahwa di luar negeri, cold chain sudah diterapkan sejak lama, seperti yang dilakukan oleh Tiongkok dalam ekspor apel Fuji dari bagian utara mereka.
Pentingnya Masa Simpan Pangan
Salah satu aspek penting dalam distribusi logistik pangan adalah perpanjangan masa simpan pangan. Hal ini memungkinkan pangan dapat didistribusikan ke seluruh daerah tanpa mengalami kerusakan. Oleh karena itu, Bapanas memberikan perhatian khusus pada pengembangan sarana prasarana cold chain.
Control Atmosfer Storage
Control atmosfer storage merupakan salah satu teknik yang digunakan dalam cold chain. Teknik ini memungkinkan suhu penyimpanan pangan dapat diatur sedemikian rupa sehingga pangan tetap segar dan berkualitas. Dengan menggunakan control atmosfer storage, apel Fuji dari Tiongkok bagian utara masih dapat diekspor meskipun sedang musim dingin.






