Bagi kebanyakan orang, mobil Eropa lawas cukup dihindari karena dianggap rumit soal perawatan. Ini karena teknologi yang dimiliki relatif canggih pada masanya, namun tidak diimbangi ketersediaan sparepart cukup sulit. Namun apakah memelihara Mercedes-Benz W124 alias Mercy Boxer sesulit yang dibayangkan?
Bicara mobil Eropa yang populasinya begitu banyak di Indonesia antara akhir 80-an hingga awal 90-an, teknologinya tidak terlalu kompleks. Hanya saja rancang bangunnya begitu sistematis sehingga mekanik mobil Jepang tidak semuanya paham.
Mundur ke belakang, industri otomotif Jerman pada dekade 80-an berusaha superior dari segala aspek. Mereka berambisi merancang mobil yang overengineered, atau sangat canggih tapi juga sangat tahan lama.
Pabrikan Jerman ingin agar uang yang dikeluarkan begitu besar oleh pembeli tidak sia-sia, dan bisa mendapat sebuah mobil untuk digunakan dalam waktu yang lama. Rancangan desain mesin dan banyak komponen era 80-an mirip seperti mobil Jepang 2000-an, tidak terlalu kompleks demi mengejar durabilitas.
Kini harga bekasnya di bawah Rp100 juta, namun desainnya masih menyisakan aura kemewahan khas 90-an. Mobil Eropa seperti Mercedes-Benz W124 memiliki desain yang lebih everlasting dibanding mobil-mobil keluaran Jepang pada masanya. Desain-desain mobil Eropa sekalipun tua tetap ada wibawanya.
Itu tadi sekilas soal hal menarik dari sebuah sedan tua Eropa. Berikut ini kami akan membahas kelebihan dan kekurangan Mercy Boxer bila dipakai kalangan anak muda.
Kelebihan Mercy Boxer W124, Sedan Medium yang Cukup Canggih
Kabin Kedap yang Cukup Hening Selama Perjalanan
Mercedes Benz dengan kode bodi W124 merupakan mid-size luxury yang didesain oleh Bruno Sacco. Sebagai salah satu model Mercedes-Benz tersukses di dunia, populasi W124 ini juga cukup banyak di Indonesia.
Statusnya sebagai mobil kelas atas saat itu membuat deretan mobil Eropa memiliki kualitas kabin jempolan. Setelah hampir 30 tahun lamanya, kualitas tersebut masih terjaga walau tidak sebaik pada masanya.
Sedan midsize buatan merek Eropa yang satu ini memang jarang mengecewakan, karena W124 menawarkan kemewahan, kenyamanan, serta performa mesin yang andal.
Sedan Eropa seperti W124 punya peredaman kabin yang cukup hening untuk sebuah mobil tua. Suara dari luar begitu minim terdengar, hanya sayup-sayup suara kipas radiator dan mesin yang masuk kabin saat idle tanpa menghidupkan AC.
Kenyamanan Berkendara yang Cukup Baik
Era 90-an menjadi masa-masa dimana banyak pabrikan otomotif Jerman sangat totalitas dalam menciptakan produk mereka, salah satunya yaitu Mercedes-Benz. Untuk ukuran mobil 90-an awal, fiturnya setara dengan mobil mewah yang muncul satu dekade setelahnya.
Bila kita memilih unit yang cukup sehat dan layak, kita masih bisa merasakan sisa-sisa kejayaan dari Mercy Boxer dari sisi kenyamanan. Mobil ini terkenal punya bantingan suspensi yang nyaman, berbekal suspensi independen dengan per keong di roda depan dan belakang.
Fitur standar di W124 ialah memakai AC analog dengan knob, tapi sudah memakai dual climate zone. Kemudian, terdapat adjustable seatbelt untuk kursi depan.
Untuk fitur pelengkap yang cukup modern di interiornya, ada yang memakai tirai belakang elektrik, pengaturan elecric seat di kursi depan, pelipatan headrest belakang otomatis, lampu baca di baris kedua, hingga dual Airbag (pada W124 facelift).
Tenaga yang Oke, Berbekal Mesin yang Besar
Sosok Mercy Boxer atau Mercedes-Benz W124 kini kembali naik daun sebagai mobil modern classics. Salah satu faktor yang dicari selain dari kenyamanan ialah tenaganya yang cukup oke.
Umumnya, sedan Eropa yang muncul di tahun akhir 80-an memiliki tenaga di atas 100 hp, yang tergolong lumayan besar saat itu. Dimulai dari tipe terbawah W124 yaitu 200, berbekal mesin 2.000 cc karburator dengan tenaga 109 hp pada 5.200 rpm dan torsi 170 Nm 2.500 rpm.
Kemudian untuk tipe 230 E bermesin 2.300 cc injeksi, menghasilkan tenaga 136 hp pada 5.100 rpm dengan torsi 205 Nm 3.500 rpm. Tipe tertinggi untuk W124 pre-facelift yaitu 300 E berkapasitas 3.000 cc dengan output 180 hp pada 5.700 rpm dengan torsi 255 Nm pada 4.400 rpm.
Pada versi facelift keluaran 1993-1996, W124 tersedia dalam dua varian yakni E220 dan E320. Pada E220 dibekali mesin 2.200 cc dengan output 150 hp pada 5.500 rpm dengan torsi 210 Nm pada 3.700-4.500 rpm.
Pada Mercedes-Benz E320 bermesin 3.200 cc dengan output mencapai 220 hp pada 5.500 rpm dengan torsi 310 Nm pada 3.750 rpm.
Mercy Boxer tersedia dalam pilihan transmisi manual 5-percepatan dan otomatis 4-percepatan. Untuk W124 matic ini jadi sedan yang nyaman dan praktis untuk berkendara sehari-hari.
Itu tadi berbagai kelebihan dari Mercy Boxer yang bisa memikat kaum mendang-mending. Kali ini kita bahas kelemahannya.
Kekurangan dan Penyakit Khas Mercedes-Benz E-Class W124
Siapa sangka, sedan yang didesain oleh Bruno Sacco ini juga memiliki beberapa kekurangan yang tidak diketahui semua orang. Mulai dari perlunya ganti slow moving karena usia kendaraan, hingga karena desain yang out of the box sehingga menuntut para pengguna untuk beradaptasi.
Pedal Parking Brake Merepotkan Untuk Pengguna Mercy Boxer Manual
Kelemahan pertama yang butuh adaptasi dari para pengguna baru Mercy Boxer dengan transmisi manual ialah ketika memakai Parking Brake. Posisi pedal parking brake ada di sisi kiri sebelah pedal kopling, dan untuk melepasnya memakai handle yang ada di sisi samping kanan setir.
Karena dimensi mobil yang cukup besar, kita bakal sedikit sulit untuk metode setengah kopling di Mercy Boxer apabila penuh penumpang. Cara yang paling aman saat harus stop and go di tanjakan ialah dengan pakai parking brake agar mobil tidak melorot saat start di tanjakan.
Hal yang cukup merepotkan ialah saat menghadapi tanjakan ketika situasi macet dengan transmisi manual. Kaki dan tangan kiri harus cekatan dalam perpindahan gigi, karena dituntut bergantian antara menginjak pedal kopling dan pedal parking brake.
Urutannya yaitu sebagai berikut; saat mobil harus berhenti total, kita injak pedal rem dan kopling sembari tangan kiri memindahkan tuas transmisi ke posisi netral.
Setelah gigi netral, sambil injak pedal rem, kaki kiri kemudian segera menginjak pedal parking brake agar mobil tidak melorot ke belakang. Saat start, kita masukkan gigi 1 sambil lepas pedal kopling secara perlahan dalam posisi parking brake terpasang. Saat mobil mulai terasa agak terdorong maju, kita release parking brake dengan menarik handle di sisi kiri setir.
Gimana, agak repot kan?
Masalah Khas Mercedes-Benz, Vakum Central Lock Rusak
Tidak seperti merek lain, Mercedes-Benz memakai sistem vakum untuk membuka sistem kunci pintu dan bagasinya. Mengingat W124 ini sudah cukup berumur, biasanya mulai muncul kerusakan atau masalah pada komponen slow moving karena usia pakai.
Mekanisme vakum ini memakai pompa, yang bisa diperbaiki kalau masalahnya belum parah. Pompa vakum atau modulnya perlu diganti kalau misalnya masalah sudah cukup serius tidak bisa dikunci.
Karet-karet Pintu dan Jendela Mulai Getas Karena Usia
Masalah lainnya yang muncul di Mercy Boxer karena usia ialah pada karet pintu dan jendela yang getas karena usia. Fungsi karet cukup penting terutama di jendela karena melindungi agar air hujan tidak merembes masuk ke dalam. Karet pada pintu juga berfungsi meredam suara dari luar agar tidak bising ke dalam kabin.
Dengan usia mobil yang kini telah mencapai 30 tahunan, karet-karet sudah banyak yang mengeras dan perlu diganti baru. Nah, untuk biaya mengganti karet-karet body juga tidak bisa dibilang murah. Untungnya ketersediaan partnya masih bisa dicari walau tak sebanyak part mesin maupun komponen paking.






