Produsen mobill pada beberapa waktu terakhir semakin banyak yang mengadopsi layout front wheel drive (FWD) dipadukan dengan transmisi CVT. Produk yang menggunakan kedua teknologi ini semakin beragam, mulai dari mobil murah seperti Honda Brio hingga mobil menengah atas seperti Toyota Kijang Innova Zenix.
Transmisi CVT semakin jamak digunakan dengan alasan bisa memberi efisiensi bahan bakar yang cukup baik dengan akselerasi yang halus. Padahal, banyak orang yang belum mengetahui soal durabilitas transmisi ini belum terbukti ketangguhannya seperti matic konvensional.
Bila ditelusuri, ada beberapa kelemahan yang langsung dihadapi oleh mobil penggerak roda depan bila memakai transmisi konvensional. Posisi mesin yang melintang ini sulit diperbesar jumlah silindernya bila ingin menambah kapasitas mesin dengan konfigurasi inline.
Untuk masalah yang satu ini masih bisa disiasati dengan memasang mesin V. Namun bagaimana dengan transmmisi matic konvensional bila ingin menambah jumlah rasio gigi. Misalnya dari yang biasanya 4-speed jadi 6-speed?
Mau tidak mau, ruang kabin ukurannya berkurang atau kap mesin jadi bertambah luas. Hal ini mengakomodir mesin yang bergeser ke depan atau belakang karena area as roda depan berfokus pada besarnya transmisi.
Solusi gampang ialah dengan memasang transmisi CVT yang ringkas, hemat tempat sehingga engine bay tak perlu besar-besar. Sisanya bisa dimanfaatkan untuk kabin yang lega. Itu tadi gambaran umum kenapa mobil baru semakin banyak memakai CVT ketimbang matic konvensional.
Berikut ini kelebihan transmisi CVT yang jadi andalan di mobil baru.
Keunggulan Transmisi CVT, Akselerasi Halus dan Irit Bahan Bakar
Transmisi CVT merupakan salah satu transmisi yang paling banyak dipilih untuk digunakan pada mobil-mobil modern. Selain karena menghasilkan pengendaraan yang lebih halus, CVT didukung modul elektrikal yang pintar mampu menghemat konsumsi bahan bakar, sehingga lebih irit.
Transmisi CVT Selalu Bekerja Pada Putaran Mesin Optimal
Pada transmisi manual atau otomatis konvensional, pasti terjadi perpindahan gigi saat putaran mesin meninggi dalam rasio gear tertentu. Hal serupa tidak harus terjadi pada transmisi CVT.
Rasio pulley awalnya memang mengalir dari putaran bawah hingga tinggi saat butuh akselerasi kuat. Namun bila digunakan berkendara santai, rasio pulley primer – sekunder ini akan memposisikan dalam kondisi putaran mesin serendah mungkin walau mobil melaju dalam kecepatan yang cukup tinggi.
Pada transmisi CVT, komponen utama yang digunakan yaitu sepasang puli dan sabuk baja. Kedua komponen ini berfungsi untuk menggerakkan transmisi dengan membentuk sebuah rasio seperti pada gear sepeda namun seamless. Sementara perubahan gigi rasio akan menyesuaikan berdasarkan putaran mesin.
Simulasi percepatan ala matic konvensional ini merupakan sistem dari modul transmisi yang mengatur pulley dalam rasio tertentu. Tujuannya supaya bisa memberi efek engine brake atau butuh akselerasi spontan.
Akselerasi Halus dan Tidak Ada Jeda
Keunggulan berikutnya yang terasa pada mobil bertransmisi CVT adalah saat berpindah gigi tarikannya sangat halus, bahkan tidak terasa perpindahan gigi. Karakternya jadi lebih nyaman untuk dikendarai.
friksi yang terjadi sebagaimana di matic konvensional sangat sedikit. Dengan friksi yang sedikit mengemudi jadi lebih menyenangkan karena tidak ada hentakan.
Transmisi CVT Ramah Untuk Pengendara Pemula
Transmisi CVT dinilai lebih mudah untuk dikendarai para pengendara pemula karena tidak memiliki hentakan akselerasi yang terlalu tinggi, sehingga lebih nyaman digunakan. Pengemudi cukup mengendalikan pedal gas dan rem, sementara pergantian gigi dapat dioperasikan dengan puli.
Kondisi berkendara dengan akselerasi yang lebih halus pada mobil dengan transmisi CVT ini membuat pengemudi pemula tidak panik karena tidak ada hentakan dari mobil.
Transmisi CVT Diklaim Minim Power Loss
Satu lagi keunggulan dari transmisi CVT ini adalah kecilnya terjadi power loss, sehingga tidak membuang tenaga dan bahan bakar secara berlebih. Ini karena kinerja rpm lebih stabil. Memang, akselerasi awal kurang perkasa tapi tidak ada jeda perpindahan gigi yang berpotensi power loss.
Untuk kemampuan CVT di tanjakan juga terus disempurnakan, modul transmisi memposisikan rasio pulley pada perbandingan yang tepat pada saat jalanan menanjak atau menurun.
Saat bertemu turunan panjang, kita cukup sesekali mengerem sampai kecepatan yang dibutuhkan, kemudian rasio pulley di transmisi CVT langsung memberi efek engine brake yang halus namun tetap kuat.
Kelemahan Transmisi CVT, Belt Baja Rentan Ambyar
Pada transmisi CVT, sabuk dan pulley ini bekerja terus membentuk rasio variabel atau yang berubah-ubah. Mau pada simulasi gigi berapapun, sabuk dan pulley ini terus berputar.
Ini karena pada dasarnya transmisi CVT tidak memiliki gigi dan cuma mengandalkan putaran pulley dan belt baja. Ini lantas membuat keausan pada pulley transmisi CVT akan selalu lebih besar dari transmisi matic konvensional.
Dalam kondisi berkendara yang cukup lama atau harus menaklukkan medan tanjakan dan turunan yang cukup berat, memaksa modul transmisi harus menciptakan rasio yang tepat agar mobil tetap bertenaga.
Dalam situasi seperti ini, kinerja CVT dapat menurun sebagai efek gesekan dari pulley dan belt baja. Dalam kondisi yang cukup parah, belt baja bisa rontok akibat gesekan dan panas yang tinggi.
Lebih parahnya lagi, sebagian pabrikan mobil di Indonesia tidak menyertakan sistem pendingin transmisi yang proporsional agar transmisi tidak overheat.
Karena cara kerjanya sangat sederhana, begitu terjadi overheat ini dampaknya cukup fatal yaitu belt baja putus. Situasinya mirip rantai motor waktu putus.
Bila sudah begini, biaya perbaikan bakal sangat mahal karena minimal harus ganti sabuk baja, bahkan bisa saja ganti salah satu pulley yang ausnya cukup parah.
Muncul selentingan bila produsen kendaraan seolah tidak peduli risiko seperti ini. Pabrikan cenderung berfokus supaya mobilnya irit, dan bisa dijual harga murah karena pajaknya turun, sehingga konsumen senang. Kalau nantinya CVT rusak, biasanya yang nanggung pasti konsumen.
Transmisi CVT Tidak Memuaskan Soal Performa
CVT memang lebih modern dan efisien dari cara kerja. Tapi pernahkah kalian sadari bila gearbox yang selalu digunakan untuk mobil performa tinggi biasanya berkutat antara transmisi konvensional AT (6–9 speed) atau DCT.
Faktanya, hingga saat ini sedan-sedan premium Eropa selalu mempertahankan transmisi otomatis konvensional. Mercedes-Benz misalnya, kini sedan besutan mereka memakai transmisi 9-percepatan.
Kita tidak bisa memungkiri nilai jual sedan premium menyuguhkan kenyamanan berkendara tanpa mengesampingkan performa. Jarang ada mobil premium yang memakai CVT, kecuali orientasinya memproduksi mobil yang irit atau nyaman dengan mengorbankan aspek performa.
Beberapa pengemudi merasa bahwa kinerja CVT memberikan pengalaman mengemudi yang kurang memuaskan. Ini karena hilangnya sensasi perpindahan gigi yang terasa seperti pada transmisi otomatis konvensional. Belum lagi terdapat jeda kecil yang disebut “delay” saat kendaraan berakselerasi.
Itulah mengapa transmisi CVT jamak digunakan pada mobil menengah bawah. Karena transmisi ini fokus pada harga yang murah, konsumsi BBM yang efisien namun tidak mengejar performa.






