Scroll untuk baca artikel
Berita

Mitos dan Fakta Seputar Alat dan Pil Penghemat Bensin, Begini Caranya Agar BBM Tetap Efisien

×

Mitos dan Fakta Seputar Alat dan Pil Penghemat Bensin, Begini Caranya Agar BBM Tetap Efisien

Share this article
mitos-dan-fakta-seputar-alat-dan-pil-penghemat-bensin,-begini-caranya-agar-bbm-tetap-efisien
Mitos dan Fakta Seputar Alat dan Pil Penghemat Bensin, Begini Caranya Agar BBM Tetap Efisien

Harga bahan bakar minyak non subsidi kerap fluktuatif dalam beberapa bulan terakhir. Saat harga bensin naik, kita dituntut harus bisa berhemat agar pengeluaran untuk biaya transportasi tidak semakin boros. Banyak aditif atau alat yang disebut bisa menghemat konsumsi bensin, apakah terbukti?

Dengan memakai alat penghemat atau zat aditif,diharapkan supaya irit dan tenaganya bisa bertambah. Karena tingginya permintaan, alat penghemat atau aditif bahan bakar sudah dijual bebas di pasaran, di toko konvensional maupun jual-beli online. 

Namun hal penting yang perlu kalian ketahui ialah apakah aditif atau alat penghemat tadi benar-benar terbukti? Atau mungkin alat tersebut hanyalah memberi efek sugesti atau placebo effect? Nah, ini yang harus kalian buktikan secara logis.

Sampai saat ini, belum ada penelitian atau riset akademis yang membuktikan keampuhan aditif maupun alat penghemat bensin. Bahkan, Agen Pemegang Merek (APM) tidak menganjurkan untuk memakai alat penghemat ataupun aditif bahan bakar jenis apapun.

Untuk itu, jangan mudah percaya pada zat aditif yang menyatakan bisa menghemat BBM dalam waktu singkat. Untuk menghemat konsumsi bensin sebenarnya bisa dilakukan secara teknis. Maksudnya, dengan melakukan beberapa treatment khusus agar tenaga mesin lebih oke ataupun memperbaiki sistem asupan bahan bakar.

Aditif Penghemat Bensin Cuma Mitos

Cara yang paling umum dilakukan oleh orang awam agar konsumsi bensin di mobil mereka bisa lebih hemat ialah dengan memakai aditif. Hal ini kadang diperparah dengan klaim pihak penjual yang bisa dibilang muluk-muluk karena diklaim bisa menghemat bensin hingga 50 persen.

Karena bila ditelaah secara logika, tidak ada kaitannya antara menghemat bensin dengan meningkatkan performa. Bila kita ingin menghemat bensin, maka performa mobil tarikannya kurang galak. 

Begitu pula sebaliknya, bila ingin tarikan atau performa mesin lebih galak, konsekuensinya ialah konsumsi bensin bakal sedikit lebih boros. 

Menggunakan aditif berbentuk pil atau cairan hanya akan menambah daftar risiko kerusakan mesin dan saluran bahan bakar. Aditif berbentuk pil misalnya, jika tidak luluh dengan baik malah berpotensi menyumbat jalur bahan bakar.

Aditif berbentuk cairan pun demikian, jika tak tercampur dengan baik malah bahan bakar tak akan memiliki kadar yang sama sehingga pembakaran pun tak sempurna. Tidak jarang, zat aditif ini menggunakan aseton yang malah akan mengikis lapisan dalam tangki dan mesin dalam jangka waktu panjang. 

Volt Stabilizer Bisa Menghemat Bensin?

Langkah selanjutnya yang biasa dilakukan untuk menghemat bensin ialah dengan memasang Volt Stabilizer. Tujuannya diklaim bisa meningkatkan tenaga dengan menstabilkan arus. 

Perlu diketahui bila volt stabilizer sebenarnya berupa capasitor bank yang dibuat untuk menstabilkan arus listrik dari aki. Pada kenyataannya, volt stabilizer bisa menaikkan tenaga tapi tidak signifikan dan tidak berpengaruh besar pada performa kendaraan. 

Dalam dunia modifikasi performa, volt stabilizer juga tidak direkomendasikan. Para mekanik cenderung memasang ground alias regrounding kabel bodi. 

Pemasangan ground yang tepat terbukti lebih mampu menstabilkan arus. Ground wiring yang sudah dirangkai ulang akan berefek signifikan pada arus misalnya ke alternator, throttle body, atau ke ECU.

Daripada memasang volt stabilizer, para bengkel modifikasi performa lebih menganjurkan untuk memakai piggyback. Alat ini lebih bisa diandalkan untuk ‘memanipulasi’ sistem dari ECU supaya bisa meningkatkan performa mesin. 

Kisaran harga volt stabilizer dan piggyback dijual dengan kisaran yang hampir sama. Pemakaian piggyback tentunya memberikan hasil signifikan pada kenaikan tenaga dan membuat konsumsi bensin tidak terbuang sia-sia.

Campur Bensin dengan Oktan Lebih Tinggi Untuk Dopping Tenaga

Bahkan, penggunaan aditif seperti octane booster juga tidak disarankan oleh pabrikan dan banyak bengkel mobil. Alternatifnya, kalian bisa memakai bensin dengan oktan yang lebih tinggi sebagai ‘dopping’ agar performa mesin jadi lebih enteng.

Misalnya saja, kalian biasa memakai Pertalite dengan RON 90 tapi tarikan terasa kurang responsif. Bisa dicampur dengan Pertamax Turbo dengan RON 98. Agar komposisinya ideal, bisa memakai perbandingan 3:1. 

Dengan perbandingan segitu, kalian bakal mendapat angka rata-rata RON kurang lebih setara Pertamax yaitu 92. Berikut ini perhitungan harganya:

Pertalite 30 liter x Rp10.000 = 300.000
Pertamax Turbo 10 liter x Rp14.470 = 144.700

Total: Rp300.000 + Rp144.700 = Rp444.700

Bandingkan bila kita mengisi Pertamax sejumlah 40 liter dengan harga per liter di Agustus 2024:

Rp12.950 x 40 liter = Rp518.000

Minyak Atsiri, Bisa Jadi Penghemat Bensin Alami

Aditif yang satu ini juga dinilai cukup aman untuk octane booster. Kegunaan minyak atsiri sudah diriset oleh usat Penelitian dan Pengembangan Departmen Pertanian, dan mengandung oksigen serta struktur kimia yang bisa menyempurnakan sistem pembakaran.

Miyak atsiri yang dicampur dengan BBM akan meningkatkan reaksi pembakaran, sehingga turut meningkatkan energi yang dihasilkan sehingga tenaga mesin lebih besar. 

Memang, peningkatan kandungan oktan bila menambahkan minyak atsiri juga tidak terlalu besar, yaitu hanya 0,4. Namun efeknya lebih berdampak pada peningkatan torsi dan daya motor serta berkurangnya konsumsi bahan bakar setelah dicampur aditif.

Cara Menghemat Bahan Bakar Tanpa Aditif dan Alat Penghemat Bensin

Berdasarkan pemaparan di atas, sudah terbukti bila aditif maupun alat seperti volt stabilizer dan sejenisnya kurang memberi dampak signifikasn terhadap peningkatan efisienasi bahan bakar.

Daripada memasang alat-alat yang kurang berfaedah, alangkah lebih baik melakukan perawatan rutin kendaraan serta membiasakan gaya berkendara yang bisa menghemat konsumsi bensin mobil kalian.

Apabila kalian  terbiasa dengan gaya berkendara yang agresif, cobalah untuk mengubah kebiasaan tersebut. Gaya berkendara yang agresif, seperti melakukan akselerasi mendadak, akan menyedot bahan bakar lebih banyak.

Gunakan fitur Eco Driving hingga idle start stop yang sudah banyak terdapat di mobil-mobil keluaran terbaru. Dengan begitu, sistem yang terdapat pada mobil akan menghemat bahan bakar secara otomatis.

Pilih Oli yang Tepat 

Pemilihan jenis dan merek oli mesin juga akan berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar. Maka dari itu, disarankan kepada pemilik mobil agar selalu memilih oli yang tepat sesuai kebutuhan mesin. 

Kita bisa atau boleh gonta-ganti merek asalkan tingkat kekentalan atau SAE oli sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Misalnya mesin tersebut dianjurkan memakai oli 5W-30, jangan menggantinya dengan 10W-40 karena mungkin tergiur harga lebih murah.

Setiap mobil sudah dirancang dengan spesifikasi pelumasan yang sesuai dengan tingkat kerapatan dan friksi komponen mesin. Oli dengan pelumasan yang baik membuat kinerja mesin lebih responsif saat akselerasi awal. Dengan begini, pengemudi tidak perlu injak gas lebih dalam saat stop and go.

Lakukan Tune Up Secara Berkala

Untuk mobil yang digunakan setiap hari, tentu bakal mengalami penurunan performa sebagai efek mesin yang bekerja terus-menerus. Untuk itu, pemilik mobil perlu melakukan tune up kendaraan yang bertujuan untuk mengembalikan kinerja mesin agar fit.

Saat tune up, mekanik akan membersihkan filter udara, throttle body, menyetel ulang celah busi, hingga menyetel celah klep mesin.
(YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *