tirto.id – Konstelasi perebutan suara di Jawa Timur kembali menjadi perhatian. Hal ini tidak lepas dari hasil survei terbaru yang dirilis lembaga survei Indikator Indonesia tentang situasi politik di Jawa Timur dan preferensi pemilih warga Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam konteks Pemilu 2024, kontestasi di Jawa Timur menarik karena menjadi provinsi dengan populasi pemilih terbesar kedua setelah Jawa Barat. Jumlah pemilih di wilayah ini mencapai lebih dari 31,4 juta. Selain itu, Jawa Timur kerap menjadi salah satu kunci pemenangan Pemilu 2024 baik itu pemilihan presiden maupun pemilihan legislatif. Hal menarik lainnya, Jatim pada Pemilu 2014 dan 2019 memegang peranan penting kemenangan paslon.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan dalam survei terbaru elektabilitas Gerindra di Jawa Timur mencapai angka 22,2 persen. Sedangkan PDIP hanya 18,3 persen dan PKB mencapai 18 persen.
Burhanuddin mengatakan survei Indikator Politik ini menggunakan simulasi 18 nama dan lambang partai padahal Jawa Timur didominasi oleh dua partai, yakni PDIP dan PKB di Pilpres 2019 lalu.
“Awalnya Gerindra tak mengancam, tapi belakangan mulai mengancam elektoral PDIP dan PKB,” kata Burhanuddin dalam siaran YouTube di akun Indikator Politik Indonesia dikutip Tirto, Kamis (1/2/2024).
Menurut Burhanuddin, kenaikan suara PDIP seiring dengan makin mendekatnya pemungutan suara di Pemilu 2024 pada 14 Februari 2024 nanti. Pada rilis survei yang dilakukan lembaga ini sebelumnya, Jawa Timur masih didominasi PDIP dan PKB.
Ia mencontohkan hasil survei pada 21-31 Desember 2023, elektabilitas Gerindra hanya 14,3 persen, sedangkan PDIP 22,2 persen dan PKB 17,8 persen.
“Ternyata ada indikasi dominasi PDIP dan PKB itu ditantang oleh Partai Gerindra,” ucap Burhanuddin.
Menurut Burhanuddin, kenaikan elektabilitas Gerindra terjadi karena dinamika Pilpres. “Pilpres punya efek elektoral terhadap partai yang terasosiasi dengan capres yang diusung,” tutur Burhanuddin.
Peta Elektabilitas Parpol di Jawa Timur saat Pileg 2024
Berdasarkan hasil survei, 5 partai terbesar mengalami perubahan suara. Gerindra berada di peringkat pertama dari 14,5 persen menjadi 22,4 persen. PDIP turun dari 23,7 persen menjadi 23,3 persen.
PKB turun dari 17,8 persen menjadi 17,2 persen. Partai Golkar naik dari 8,1 persen ke 10,9 persen. Kemudian Demokrat naik dari 3,4 persen menjadi 5,9 persen. Survei berdasarkan 810 responden dengan margin error 3,5 persen dengan metode simple random sampling.
Selain Indikator, lembaga survei Lingkar Survei Indonesia (LSI) juga sempat merilis hasil survei mereka di 16-28 Desember 2023 pada 800 responden dengan MoE 1,1 persen lewat metode stratified random sampling.
Dalam survei bulan Desember berdasarkan lambang partai LSI justru mencatat PDIP di peringkat pertama dengan 22,5 persen kemudian disusul PKB 19,5 persen Gerindra 16,9 persen, Golkar 7,2 persen dan Demokrat 4,6 persen.
Sementara itu, jika berbasis surat suara, PDIP sebesar 23,3 persen. Kemudian berturut-turut PKB 20,7 persen, Gerindra 16,6 persen, Golkar 7,5 persen dan Demokrat 4,9 persen.
Calon wakil presiden nomor urut 1 Muhaimin Iskandar berpidato saat Konsolidasi Akbar Amin Jawa Timur di DBL Arena, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (10/1/2024). ANTARA FOTO/Moch Asim/foc.
Ia juga mengingatkan bahwa surat instruksi partai untuk memenangkan Ganjar dan memenangkan caleg diamini oleh para kandidat dan kader partai. Ia pun melihat kader bergerilya dan solid sehingga optimistis PDIP tetap menang di Jatim lebih baik, paling tidak bisa mempertahankan suara di Pemilu 2019.
Presiden ke-6 sekaligus Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) melakukan orasi politik didampingi calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto (kiri) dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (kanan) serta Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur Emil Dardak (kedua kanan) saat hadir dalam kampanye akbar Partai Demokrat di Stadion Gayajana, Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (1/2/2024). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.
Pertarungan PDIP, PKB dan Gerindra
Analis politik dari Universitas Jember M. Iqbal menilai dominasi PDIP dan PKB masih belum luntur. Ia justru melihat aura ketokohan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud malah menguat dan Prabowo-Gibran mulai menguat hanya untuk Gerindra saja. “PKB dan PDIP di Jawa Timur saya kira di satu sisi, masih akan dominan karena efek ‘ekor jas’ dari aura ketokohan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud. Sebaliknya, aura patriotisme Prabowo juga akan ciptakan efek elektoral bagi Gerindra, namun menyisakan potensi yang cenderung buruk karena sosok Gibran masih dinilai problematik oleh opini publik,” kata Iqbal, Sabtu (3/2/2024).Di sisi lain, Iqbal melihat narasi perubahan atau perbaikan yang diusung oleh koalisi 01 dan 03 kelihatannya makin membesar dibandingkan narasi 02 untuk melanjutkan kebijakan dan program-program pemerintahan Jokowi. Maka, potret sosiologi politik yang sarat etikabilitas itu akan jadi alat uji yang lebih sahih bila dibandingkan dengan sebatas rekaman data survei elektabilitas.Iqbal menilai, hasil survei tentang Jawa Timur dapat disebut sebagai manuver politik untuk membangun persepsi dan opini publik. Ia mengutip pernyataan populer mendiang kolumnis dan jurnalis AS, Doug Larson, “hal yang paling luar biasa tentang lembaga survei adalah bagaimana mereka menemukan begitu banyak orang tanpa opini.”Ia pun mengingatkan, survei telah merekam opini responden dalam kondisi dan waktu tertentu. Namun, ada banyak situasi yang terlalu kompleks bisa jadi tidak cukup memadai untuk merekam seluruh dinamika yang sebenarnya terjadi. Apalagi akan lebih problematik bila dipakai menyimpulkan bahkan memastikan hasil akhir setelah hari coblosan Pemilu 14 Februari mendatang.“Bila Gerindra diprediksi menang pemilu mengalahkan basis suara PKB dan PDIP di Jawa Timur hanya semata merujuk rekaman data survei dua pekan sebelum hari coblosan, ini mungkin kesimpulan narasi yang luar biasa untuk tidak dikatakan sebagai penggiringan persepsi dan opini publik,” ujar Iqbal. Iqbal mengacu pada hasil Pileg 2019 lalu, dominasi PKB dan PDIP unggul dua kali lipat dibandingkan suara Gerindra di Jawa Timur. Baik PKB dan PDIP diyakini punya akar dan jangkar kohesi struktural maupun kultural pemilih fanatiknya.
Hal itu tidak lepas dari PKB dan PDIP nyaris sama meraih 4 juta lebih suara Pileg 2019. Sedangkan Gerindra menempati posisi ketiga dengan meraup suara 2 juta lebih. Alhasil, ketika Pilpres 2019 yang hanya ada dua calon saja, capres Prabowo kalah dari capres Jokowi.
Calon presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo menyampaikan orasi politiknya saat kampanye di Malang, Jawa Timur, Selasa (30/1/2024). Dalam kampanye yang dihadiri pendukung dan sekitar 1.000 pelaku kesenian bantengan tersebut Ganjar mengajak untuk menyatukan semangat sebagai upaya meraih kemenangan dalam pemilihan presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2024. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/tom.
Lalu Ganjar-Mahfud yang didukung oleh soliditas dan fanatisme pemilih sebagai pemuja penjaga demokrasi. Sementara Prabowo-Gibran, meski didukung koalisi jumbo tengah menghadapi citra negatif lantaran problem etik dan tuduhan politik sarat intrik.
Ia menilai, semua itu ditentukan oleh seberapa progresif para caleg itu merawat ikatan modal sosial kultural untuk merebut porsi suara terbanyak dari total 31 juta lebih pemilih Jatim.
(tirto.id – Politik)
Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Maya Saputri






