Insan Akbar | 11 July 2024 11:30
JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperian) maupun pengamat otomotif mengusulkan pemberian insentif untuk mobil baru seperti saat pandemi Covid-19, untuk mengatasi pelemahan daya beli dan pasar yang sedang terjadi pada 2024.
Pasar mobil nasional memang lagi doyong.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mencontohkan bahwa pada Januari-Mei 2024, penjualan mobil secara wholesales (distribusi ke diler) drop 21 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year), menjadi 334.969 unit.
Faktornya beranekaragam. Misalnya saja, menurut Kukuh, ialah pelemahan ekonomi global dan nasional, kenaikan suku bunga global dan dalam negeri, lonjakan kredit macet (non performing loan), pengetatan pemberian kredit.
“Salah satu faktor pemicu stagnasi pasar mobil adalah harga mobil baru tidak terjangkau oleh pendapatan per kapita masyarakat. Gap antara pendapatan rumah tangga dan harga mobil baru makin lebar,” tegas dia, dalam diskusi ‘Solusi Mengatasi Stagnasi Pasar Mobil’ yang digelar Forum Wartawan Industri (Forwin), Rabu (10/7/2024) di Jakarta.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam kata sambutan yang dibacakan Plt Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Putu Juli Ardika, menilai pemerintah perlu menginisiasi langkah-langkah strategis untuk mengatasi kondisi saat ini.
Soalnya, pertumbuhan industri alat angkut tidak terlepas dari kontribusi sektor otomotif.
Ia menilai cerita sukses insentif fiskal dari pemerintah untuk pembelian mobil baru di kala pandemi Covid-19 bisa diulang lagi sekarang. Ketika itu, pemerintah memberikan diskon Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) yang disebut juga PPnBM ditanggung pemerintah (PPnBM DTP).
“Dukungan terkait pengendalian suku bunga juga dapat menjadi salah satu langkah kita untuk memberikan trigger kepada masyarakat untuk dapat membeli kendaraan roda empat baru,” pikir Agus.
Diskon PPnBM saat pandemi Covid-19, menurut data Kemenperin, mendongkrak penjualan mobil baru sebanyak 113 persen yoy selama Maret-Desember 2021. Pada 2022, penjualan mobil baru Januari-Mei bertumbuh menjadi 95 ribu unit.
Pengamat Otomotif Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Riyanto mengajukan solusi jangka pendek dan jangka panjang untuk meningkatkan penjualan mobil yang sudah 10 tahun lebih tak bisa lebih dari 1 juta unit.
Dalam jangka pendek, di kala penurunan pasar mobil nasional saat ini, perlu ada insentif fiskal. Diskon PPnBM bagi model-model low cost green car (LCGC) maupun low multi purpose vehicle (LMPV) 4×2 yang sama-sama diproduksi di dalam negeri bisa menjadi stimulus yang tepat, sekaligus menambah pendapatan pajak pemerintah dari volume penjualan kendaraan yang naik.
“Pada saat yang sama perlu dirancang program mobil murah atau penyegaran program KBH2 (LCGC),” tandasnya.
Solusi jangka panjang, lanjut Riyanto, ialah reindustrialisasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional menjadi rata-rata 6 persen per tahun. Dengan begitu, porsi sektor manufaktur terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) bisa mencapai 25-30 persen yang pada akhirnya mendongkrak pendapatan per kapita masyarakat upper middle ke kelas affluent. [Xan]






