Euforia kemenangan Timnas Indonesia melawan Filipina masih terasa. Masyarakat masih membicarakan berbagai fenomena yang terjadi selama pertandingan putaran kedua kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Salah satunya terkait banyaknya suporter perempuan yang meramaikan Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.
Tak sedikit konten nyinyir dan misoginis berseliweran di media sosial. Para suporter laki-laki menyampaikan ketidaksukaannya pada suporter “dadakan” yang didominasi perempuan. Mereka disebut tidak mengerti tentang dunia sepak bola dan hanya ikut-ikutan alias fear of missing out (FOMO).
Frasa “ultras seblak” juga banyak digunakan untuk menggambarkan fenomena suporter perempuan di GBK. Mereka disebut hanya mendukung pemain yang memiliki paras tampan, tidak mengerti pertandingan, dan dianggap menyalahi aturan tidak tertulis para suporter sepak bola.
Stereotipe tersebut berujung pada penghinaan dan pelecehan terhadap perempuan yang tentu saja melenceng jauh dari topik utama tentang sepak bola. Padahal, sepak bola dikenal sebagai olahraga merakyat yang bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakangnya.
Pelecehan di media sosial tersebut hanyalah permukaan dari banyaknya kasus pelecehan yang terjadi dalam sepak bola. Pasalnya perempuan masih belum mendapatkan ruang aman ketika menikmati pertandingan sepak bola di stadion. Bahkan, stereotipe yang telah mengakar di masyarakat juga turut membatasi ruang gerak perempuan untuk mengeksplorasi banyak hal, termasuk olahraga.
Konde.co berbincang dengan suporter dan jurnalis perempuan yang menggeluti bidang olahraga. Mereka membagikan pengalaman selama menonton pertandingan di stadion. Tidak hanya ancaman pelecehan seksual yang harus dihadapi, melainkan komentar nyinyir sesame suporter juga tak terelakkan.
Suporter Perempuan Berhak Merayakan Euforia Kemenangan
Rina Puspita (24) menyukai sepak bola sejak masih kecil. Awalnya, ia hanya sering menonton pertandingan lewat siaran televisi saja. Kesukaannya pada dunia sepak bola mulai bertambah saat Timnas Indonesia bertanding pada tahun 2010. Inilah yang membuat Rina makin tertarik untuk mengenal klub sepak bola di Indonesia.
Klub bola yang diidolakannya yaitu Persib Bandung. Rina rela meluangkan waktunya untuk menonton Persib Bandung bertanding secara langsung di stadion, sekalipun harus melakukan perjalanan jauh dari Yogyakarta atau Temanggung. Setelah bekerja, Rina hanya menonton pertandingan melalui siaran atau secara langsung jika jarak stadionnya masih bisa dijangkau.
“Dulu sebelum aku kerja, waktu lebih fleksibel ya. Aku bisa nonton di Bandung atau dekat di Magelang, Yogyakarta, atau Semarang. Kalau ada waktu pasti aku sempatin,” ujar Rina kepada Konde.co pada Jumat (14/6/2024).
Rina masih ingat betul euforia ketika Persib Bandung bertanding pada 2023. Saat itu, penonton sudah boleh datang ke stadion untuk meramaikan pertandingan. Kemenangan Persib Bandung membuat Rina merasa senang, ditambah riuhnya suara penonton yang menggema di stadion.
“Rasanya tuh sampai jalan-jalan pas pulang habis nonton itu ramai banget. Jadi orang semua merayakan (kemenangan Persib Bandung),” tambahnya.
Baca juga: 5 Penyebab Sepakbola Perempuan Masih Terpinggirkan
Tidak hanya menonton pertandingan, Rina juga kerap membeli merchandise, terutama jersey dari official store-nya. Menurutnya, hal tersebut termasuk memberikan dukungan kepada Persib Bandung agar para pemain tetap bersemangat karena selalu ada suporter yang senantiasa mendukung mereka.
Berkaca dari pengalaman tersebut, Rina justru merasa senang ketika makin banyak perempuan yang ikut menonton pertandingan sepak bola di stadion. Sebab, olahraga sepak bola bisa dinikmati oleh siapa saja tanpa terbatas latar belakang, terutama gender. Sayangnya, jumlah perempuan yang menonton sepak bola di stadion masih cukup sedikit dan masih didominasi laki-laki.
“Aku senang karena sepak bola bukan olahraga (untuk) gender (tertentu). Sepak bola kan ada yang cewek dan cowok. Aku juga senang karena orang jadi banyak yang mengerti tentang sepak bola, karena dulu sebelum ramai Timnas kesannya kayak norak,” ujar Rina.
Terlepas dari berbagai motivasi orang menonton sepak bola, seharusnya ini dilihat sebagai sesuatu yang baik. Perempuan bisa merayakan euforia kemenangan tim sepak bola di stadion tanpa takut dilabeli stigma dan ancaman kekerasan seksual. Lantaran sepak bola tidak hanya untuk kelompok tertentu saja–terutama laki-laki.
Aku Direndahkan, Dilecehkan dan Dipandang Sebelah Mata
Dibalik meriahnya dukungan dari penonton tidak menutup fakta bahwa masih banyak perempuan yang merasa tidak aman ketika berada di tengah-tengahnya. Jurnalis Bolasport.com, Wila Wildayati (29) tak luput dari pelecehan selama menonton pertandingan sepak bola. Wila kerap dilecehkan secara verbal oleh penonton dan rekan sesama jurnalis saat meliput pertandingan.
“Saya pernah ketika dikomentari badan saya. langsung saya tegur orang itu sampai dua kali, tapi ini anak nggak berubah. Tapi pada satu titik dia melakukan hal itu, saya mikir, ‘ah malaslah ngomong sama sampah’. Diomongin, ditegur kayak apapun tetap sama,” ujar Wila kepada Konde.co pada Jumat (14/6/2024).
Namun, ada juga pelaku yang merasa malu dan tidak lagi mengulangi perbuatannya ketika ditegur oleh Wila. Ia lebih berhati-hati dalam berucap dan lebih sopan. Wila merasa senang melihat perubahan tersebut. Di samping ia pun berharap pelaku benar-benar tidak mengulangi perbuatannya lagi kepada perempuan lain.
Wila juga kerap menemukan kasus pelecehan terhadap perempuan ketika sedang berada di lapangan. Sebagian besar melecehkan secara verbal, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya pelecehan nonverbal. Sayangnya, hal ini masih dinormalisasi. Tak heran jika kebanyakan perempuan memilih berjalan bersama laki-laki agar tidak dilecehkan.
“Ada satu titik di mana aku merasa akan lebih nyaman ketika aku berjalan dengan cowok. Mulut-mulut suporter itu ngawur. Tapi di titik-titik lain aku merasa berjalan sendiri, aku bisa sesantai itu,” ujar Wila.
Baca juga: AJI Kecam Pelecehan Seksual Dari Suporter Sepak Bola Terhadap Jurnalis Liputan6.com
Sebagai jurnalis perempuan yang meliput olahraga, Wila juga tidak lepas dari stigma bahwa perempuan dianggap tidak paham sepak bola. Ia kerap mendapatkan diskriminasi ketika sedang melakukan peliputan. Pertanyaannya dianggap terlalu umum dan tidak berbobot.
Wila tidak gentar. Ia terus berusaha membuktikan bahwa liputannya jauh lebih baik dibanding jurnalis lainnya, terlebih yang memandang sebelah mata. Ia membuktikan dengan tulisan yang bagus sesuai rencana yang telah disusun sebelumnya.
“Aku mau wawancara siapa sudah harus ada di rencana saya. Di pikiran saya, saya harus mencari tahu siapa, datanya apa, apa yang bisa saya ulik dari dia, dan pertanyaan-pertanyaan yang nggak akan pernah terpikirkan oleh wartawan lainnya,” tambah Wila.
Hasilnya Wila tahu lebih dahulu salah seorang pemain di Piala Dunia 2017 adalah pemain Manchester United. Hanya ada dua jurnalis yang berkesempatan untuk mewawancarai pemain tersebut, salah satunya Wila. Momen tersebut membuat Wila disanjung oleh rekan sesama jurnalis, termasuk yang pernah menganggap remeh kemampuannya.
“Saya mau sedikit ribet intinya gitu sebagai perempuan biar nggak dianggap remeh. Kamu mau sedikit ribet, kamu mau mencari data, dan lain sebagainya. Jadi kamu nggak akan dianggap bodoh akan sepak bola,” tambah Wila.
Suporter Perempuan Mendobrak Bias
Selama ini, sepak bola selalu erat kaitannya dengan laki-laki. Hal ini tidak terlepas dari konstruksi yang menempatkan sepak bola sebagai olahraga maskulin. Sebab, sepak bola lebih mengedepankan fisik yang lincah, tangkas, kuat, dan tahan banting. Sementara perempuan selalu dianggap lemah dan mudah lelah.
Dalam Jurnal Sosial dan Sains (SOSAINS), Afrihardina Muharani, Luna Febriarni, dan Putra Pratama Saputra menyebut bahwa masuknya perempuan sebagai suporter sepak bola memberikan warna baru. Meski begitu, tidak ada pembedaan antara suporter laki-laki dan perempuan. Semuanya bersatu untuk mendukung klubnya saat bertanding.
Selain itu, hadirnya suporter perempuan yang juga aktif dalam kegiatan komunitas suporter mampu mengubah stereotipe masyarakat. Terlebih dengan loyalitas yang ditunjukkan oleh suporter perempuan. Mereka dapat ikut menyanyikan chant atau anthem untuk mengobarkan semangat para pemain dan suporter lainnya.
Anggota Komite Eksekutif (Exco) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Arya Sinulingga mengimbau agar tidak ada lagi diskriminasi sesama suporter, terutama suporter perempuan. Menurutnya, diskriminasi tersebut termasuk penghinaan gender.
“Suporter harus mulai belajar menghargai nilai-nilai dalam sepak bola yang menjunjung tinggi unity, tidak rasis, tidak bias gender. Itu musuh utama dari sepak bola di dunia,” ujar Arya pada Selasa (28/5/2024), dikutip dari Bisnis.com.
Baca juga: Cuma Jadi Pemanis: 5 Stereotip Negatif Pada Perempuan Penggemar Piala Dunia
Meski demikian, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan oleh suporter perempuan. Salah satunya adalah memahami tentang sepak bola dan tidak tebang pilih dalam mendukung pemain. Hal ini secara tidak langsung dapat menurunkan performa pemain selama pertandingan berlangsung.
Wila merasa ada momen di mana suporter perempuan terlihat sangat banyak memenuhi Stadion GBK saat pertandingan Indonesia melawan Filipina berlangsung. Namun, kadang ia juga merasa sangat sepi. Tidak ada teriakan atau nyanyian chant yang biasa digaungkan para suporter.
“Mungkin itu yang membuat celetukan suporter perempuan cuma FOMO, ikutan ramai, ikutan kalau ada pemain good looking. Tapi mereka nggak paham, nggak ikut nyanyi lagu-lagu yang memberikan semangat pemain,” ujar Wila.
Sepakat dengan Wila, Rina juga berpesan agar suporter perempuan memahami sepak bola saat menonton. Mereka juga bisa mengajak atau berada dekat dengan orang yang lebih mengerti sepak bola. Hal ini sangat memudahkan untuk memperkirakan kapan harus berteriak, diam, dan memberi dukungan. Selain itu, suporter perempuan juga dapat terhindar dari penipuan.
“Namanya suporter ya mereka dukung (pemain/klub), dukung dengan cara mereka nyanyi 90 menit di lapangan,” pungkas Rina.




