Nursida Can (50 tahun), tak menunjukkan raut muka lelah meski usai menempuh perjalanan panjang dari kampungnya di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Sekitar dua hari dia tempuh perjalanan untuk sampai di Jakarta.
Jumat pekan pertama Mei 2024 saya menemuinya di Pameran “Bloody Nickel: Sisi Gelap Kendaraan Listrik” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini bentuk kampanye tandingan atas pameran mobil listrik yang digelar Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) di JIExpo, Jakarta.
Nursida adalah warga Desa Sagea, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Ia bersama sejumlah warga dari kampung-kampung yang terdampak tambang nikel di Sulawesi dan Maluku datang di pameran tersebut.
Saat bercerita tentang Sagea, desa tempat kelahirannya, Nursida mengingatnya sebagai kampung yang memberi kecukupan dan kesejahteraan bagi warganya.
Sungai dan mata air mencukupi kebutuhan air warga baik untuk minum, masak, mandi maupun cuci. Tanahnya yang subur menghasilkan pala, cengkih, kopra dan kelapa yang jadi sumber penghidupan warga. Ikan di laut dan danau melimpah dan mudah didapat untuk konsumsi keluarga maupun dijual.
“Sebelum (ada) tambang, kita tinggal di pedesaan itu enak, alamnya bersih. Masih enaklah kita tinggal dengan alam yang terjaga begitu to,” tutur Nursida.
BACA JUGA: Mengapa Para Perempuan Berani Hidup di Lingkar Tambang?
Sagea punya tutupan hutan yang cukup luas dan wilayah perbukitan di utara desa. Di lokasi tersebut terdapat Gua Bokimoruru yang merupakan ekosistem karst.
Gua Bokimoruru disebut sebagai gua terpanjang di Halmahera dan punya aliran sungai bawah tanah. Sungai ini membentuk aliran sungai permukaan yang dikenal sebagai Sungai Sagea. Sungai yang jadi sumber air warga dan tempat wisata alam.
Sayangnya kondisi Sagea banyak berubah beberapa tahun terakhir. Aktivitas tambang PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) 6 tahun terakhir di Kabupaten Halmahera Tengah mengubah kondisi desa-desa di kawasan tersebut.

Cerita serupa dituturkan Ayunia Muis (28 tahun), warga Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Desa Torobulu dikenal sebagai penghasil ikan. Hasil tangkapan ikannya dipasarkan hingga Makassar bahkan Jawa.
“Dulu itu Desa Torobulo kayak desa dolar. Kenapa begitu? Karena ikan di Torobulu, kayak ikan kembung dan ikan putih itu melimpah. Dulu itu di sana kayak banjir ikan begitu pendapatannya,” kata Ayu.
Nelayan Torobulu biasa memakai kapal gae atau kapal pukat/jala cincin mini untuk mencari ikan. Di Desa Torobulu ada belasan kapal gae. Satu kapal gae biasanya punya sekitar 12 hingga 17 nelayan sawi atau anak buah kapal yang bekerja di kapal tersebut.
Sekali melaut satu kapal bisa mendapat 1 ton ikan. Ikan kembung atau ikan rumah-rumah dan ikan putih banyak ditemui di sana.
BACA JUGA: Aksi Lilitkan Kain ke Pohon, Perempuan Wadon Wadas Tolak Tambang Andesit
“Hasil tangkapan ikan itu dikirim-kirim ke luar daerah, karena memang dalam satu hari satu kapal itu bisa dapat sampai satu ton,” tutur Ayu.
Nelayan kapal gae memakai jaring untuk menangkap ikan. Mereka memasang jalanya melingkar dan menaruh lampu-lampu di atasnya yang dipasang di atas rakit-rakit dari gabus untuk menarik perhatian ikan-ikan.
Sebagian warga Torobulu ada juga yang mengelola budi daya tambak, termasuk Ayu. Setelah ayahnya meninggal, Ayu dan adik laki-lakinya yang mengelola tambak udang milik keluarga. Selain mengurus tambak, Ayu juga membuat kue dan kerupuk dan dijual lewat media sosial. Ia membikin kue bersama ibunya yang biasanya ramai pesanan menjelang lebaran.
Ayu mengaku dirinya petambak tradisional. Ia mengelola satu kolam tambak dengan ukuran sedang dan tidak memakai kincir angin.
“Punya aku tambak tradisional. Kalau untuk tambak tradisional itu tidak pakai kincir, memang itu sempit. Jadi kita hanya andalkan alam. Sebenarnya bisa (dipasang kincir), tapi ada biaya tambahan lagi,” ujarnya.
Para petambak bisa panen sampai 3 kali dalam setahun. Mereka mengambil bibit dari pengolah dan hasil panen akan disetor ke pengolah juga yang akan menyalurkannya ke pabrik. Harga udang ditentukan pengolah berdasarkan ukuran. Sekali panen dari menebar 150 ribu bibit benur bisa menghasilkan 1 ton lebih udang.
Keberadaan pelabuhan penyeberangan, pelabuhan ikan dan tempat pariwisata di Desa Torobulu membuat perputaran ekonomi di sana cukup lancar. Banyak orang-orang dari luar daerah yang datang mencari ikan.
Petaka Bagi Warga
Cerita-cerita warga desa yang berdaya dan berkecukupan tersebut berubah jadi petaka seiring masuknya korporasi tambang nikel di desa-desa mereka.
Seperti yang dialami warga Desa Torobulu. Keberadaan PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) yang menambang di Desa Torobulu menyebabkan pencemaran lingkungan termasuk air laut. Akibatnya hasil tangkapan laut dan tambak warga berkurang.
Aktivitas penambangan mengeruk berton-ton tanah yang mengandung mineral nikel (bijih) lalu diangkut dengan truk-truk menuju pelabuhan. Material tersebut lalu dipindahkan ke tongkang dan diangkut lewat laut.
Proses pengangkutan tersebut bisa mencemari laut ketika mineral nikel jatuh atau tumpah ke laut. Belum lagi limbah dari tongkang. Air laut jadi kotor dan banyak limbah. Populasi ikan di perairan jadi berkurang.
Lalu Lalang tongkang juga membuat kapal nelayan tak lagi bisa mencari ikan di dekat pantai. Mereka harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan. Ibaratnya mereka harus menempuh jarak dua kali lipat dari sebelumnya.
Akibatnya nelayan butuh bahan bakar lebih banyak. Waktu untuk melaut jadi lebih panjang. Bahkan ada nelayan yang sampai melaut keluar dari wilayahnya. Ongkos yang mesti dikeluarkan untuk melaut jadi lebih besar, tapi hasil tangkapan tak sebanyak sebelumnya.
“Kalau sekarang untuk dapat 100 kilo saja itu susah. Di sana itu pakai peti atau gabus (untuk menyimpan ikan). Dalam satu gabus itu muat 30-an kilo ikan. Sekarang itu paling hanya dapat 2 gabus atau 5 gabus paling banyak. Itu pun sangat susah dengan wilayah tangkap yang jauh sekali,” tutur Ayu.
Kapal-kapal gae sekarang juga pergi melaut ke luar daerah.
“Kapal-kapal gae itu sudah sampai pergi mencari (ikan) di Kupang. Mereka sudah pergi melaut di daerah orang,” ujar Ayu.
Hal yang sama dilakukan oleh nelayan-nelayan dengan kapal yang lebih kecil. Mereka melaut sampai ke Ternate bahkan sampai ke kabupaten lain. Seperti ke kabupaten Muna atau ke Pulau Kabaena di kabupaten Bombana.
BACA JUGA: Edisi Kartini: Pergi ke Morowali, Kutemui Para Perempuan Muda Pekerja Tambang
Hasil tangkapan ikan nelayan kecil juga mengalami penurunan sama seperti yang dialami oleh nelayan kapal-kapal besar. Sebelum ada tambang mereka bisa dapat ikan sekitar 40-100 kilo sekali melaut.
“Kalau sekarang jangankan untuk dapat segitu. Untuk dapat ikan buat dimakan saja sudah untung. Jadi paling hanya dapat 2 kilo sampai 4 kilo. Itu cuma buat makan sendiri,” ungkap Ayu.
Paling banyak hasil tangkapan ikan yang bisa diperoleh nelayan kecil cuma belasan kilo atau tak lebih dari 40 kilo. Ini pun sudah sangat jarang terjadi. Dengan lokasi penangkapan ikan yang lebih jauh, kalau hasil yang didapat hanya 2 kilo, nelayan tidak bisa menutup ongkos melautnya.
“Kalau misalnya dapatnya hanya 2 kilo, dengan ongkos yang lebih besar, ya terbayang sendiri bagaimana sekarang susahnya penghidupan di sana,” tutur Ayu.
Namun mereka seperti tak punya pilihan. Kalau tidak melaut mereka tidak ada pekerjaan lain. Kalau pun mau menanam, mereka tidak punya lahan.
Selain itu selama beroperasi PT WIN menambang di dekat pemukiman warga. Namun perusahaan tidak membangun dam penampung atau jalur air agar tanah-tanah yang dikeruk tidak turun ke daerah pesisir ketika musim hujan.
Akibatnya ketika musim hujan air hujan akan membawa tanah-tanah yang dikeruk mengalir turun ke pesisir bahkan sampai wilayah pantai. Sementara di Torobulu, warga di pesisir biasa memasang serong di sekitar tanaman bakau. Serong adalah alat penangkap ikan dan udang berupa jaring berbentuk segitiga.
Sekarang mereka tidak bisa lagi memasang serong akibat lumpur dari proses penambangan yang memenuhi daerah pesisir. Tak hanya itu kawasan bakau yang ada di pesisir juga terganggu. Meskipun mangrove masih ada tapi tak ada lagi tunas-tunas baru yang tumbuh.
BACA JUGA: Petaka Bagi Warga, Perempuan Wadas Tolak Pembangunan Tambang Dan Bendungan
“Jadi rata-rata bakau yang ada sekarang itu bakau-bakau yang tumbuh dari beberapa puluh tahun yang lalu. Kalau untuk bakau-bakau baru itu tidak ada,” ujar Ayu.
Wilayah pesisir yang penuh dengan lumpur dari penambangan juga menyebabkan orang Bajo kehilangan sumber penghidupannya. Mereka tinggal di satu RT di dusun wilayah pesisir Desa Torobulu.
Selain memasang serong, mereka biasa mencari kerang dan teripang di belakang rumahnya. Kerang dan teripang tersebut biasa dijual untuk menopang perekonomian mereka. Ketika wilayah pesisir di belakang rumah orang Bajo berubah jadi endapan lumpur, mereka tidak bisa lagi mencari kerang dan teripang.
Kondisi yang dihadapi petambak juga hampir sama lantaran tambak juga kena imbas penambangan. Ayu menuturkan dalam tiga tahun terakhir hampir semua tambak di desa-desa yang menjadi lokasi penambangan tidak produktif. Seperti tambak di Desa Torobulu, Desa Mondoe, dan Desa Wonuakongga.
Jika sebelum ada tambang hasil panen bisa sampai ton, di tiga tahun terakhir jadi turun. Ini lantaran udang cenderung lebih sensitif daripada ikan.
“Dari 150 ribu benur yang ditebar, dulu itu bisa panen 1 sampai 1,5 ton. Tapi di 3 tahun terakhir itu menurun. Paling banyak dapat 700 kg, kadang juga tidak sampai, bahkan hanya 200 kg,” papar Ayu.
Untuk petambak kecil seperti dirinya, pendapatan yang diperoleh jadi sangat berkurang.
“Karena tambak saya kecil, biasa paling tebar bibit 50 ribu sampai 100 ribu benur. Biasanya bisa panen sampai 500 kg. Sekarang hanya dapat 70 kg. Jadi tiga tahun terakhir ini memang penghasilannya sangat-sangat kurang,” ujarnya.
Penurunan produksi ini karena kondisi air laut yang tercemar lumpur akibat penambangan berpengaruh terhadap pertumbuhan udang. Suplai air tambak berasal dari air laut apalagi ketika air laut sedang pasang. Dengan kondisi air laut bercampur lumpur, air tambak jadi sangat keruh.
“Jadi memang sebenarnya kalau untuk di sektor perikanan, ya banyak sekali dampak tambang nikel,” tandas Ayu.
Sumber Air Rusak
Juli 2023, air sungai Sagea berubah warna menjadi cokelat dan berlumpur. Biasanya air sungai yang menjadi sumber air warga baik untuk dikonsumsi maupun untuk keperluan sehari-hari tersebut jernih.
Perubahan air sungai ini diduga karena ada pembukaan lahan yang dilakukan di hulu sungai.
Di Halmahera Tengah PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) mengelola kawasan industri smelter pengolah nikel sejak 2018. PT IWIP berada diantara Desa Gemaf dan Desa Lelilef. Sementara Desa Sagea berjarak sekitar 12 km dari PT IWIP.
Koordinator Save Sagea Adlun Fikri menjelaskan sebagai kawasan industri yang terintegrasi ada sejumlah perusahaan yang punya izin tambang di kawasan tersebut. Seperti PT Weda Bay Nickel dan perusahaan-perusahaan kecil di sekitarnya yang menyuplai bahan baku untuk diolah di kawasan IWIP.
BACA JUGA: Petani Digusur Aktivis Dibungkam, Merdeka Harusnya Tidak Begini
“Nah, izin-izin itu berada di pertengahan antara Kabupaten Halmahera Tengah dengan Halmahera Timur. Jadi dia kan kondisinya di tengah hutan dan itu batas wilayah,” kata Adlun.
Di Desa Sagea aktivitas tambang belum beroperasi. Tetapi kawasan di hulu Desa Sagea, sekitar 20-an KM dari desa, masuk konsesi Weda Bay Nickel. Di wilayah Sagea, Weda Bay Nickel baru pada tahap pembukaan jalan eksplorasi.
“Nah akibat dari pembukaan jalan eksplorasi di hulu, jadi setiap hujan, limpasan lumpur masuk di sungai-sungai kecil. Dari situ lalu mengalir juga di Sungai Sagea,” jelasnya.
Sampai saat belum ada perubahan berarti. Kalau hujan turun, air Sungai Sagea akan kembali menunjukkan perubahan warna.
“Kalau hujan di bagian hulu Itu baru dia (Sungai Sagea) agak menguning lagi to airnya,” ucap Adlun.

Kondisi ini menyebabkan warga Desa Sagea tak lagi mengonsumsi air sungai untuk minum dan masak, Mereka membeli air galon sebagai air minum, seperti dituturkan Nursida.
“Dulu kita minum air di sungai atau sumur, sekarang kita mesti beli galon karena takut. Dulu kita mencuci, mandi, minum juga air di situ karena bersih. Cuma modal sungai itu saja.,” ujarnya.
Menurut Nursida warga beralih mengonsumsi air galon sejak 2 atau 3 tahun terakhir. Sehingga ada tambahan pengeluaran untuk membeli air minum. Sementara untuk kebutuhan mandi dan cuci baju warga memakai air sumur. Kondisi air sumur sendiri menurut Nursida cukup baik, tidak menunjukkan ada perubahan warna.
Sumber air warga yang tercemar dan rusak akibat aktivitas tambang nikel juga terjadi di Desa Torobulu. Selain menambang di dekat pemukiman, PT WIN juga menambang di dekat kolam mata air yang menjadi sumber air warga.
BACA JUGA: Mama Aleta, Yosepha Alomang, dan Delima Silalahi: Pejuang Lingkungan Berperspektif Perempuan
Warga biasa memakai air dari kolam mata air untuk minum, masak, mandi dan cuci. Dari kolam. air dialirkan ke rumah-rumah warga lewat pipa-pipa secara bergilir tiap tiga hari sekali dengan durasi tiga jam. Pengelolaannya diatur oleh aparat desa dan warga membayar iuran sebesar 120 ribu tiap bulan. Iuran bulanannya sempat turun jadi 100 ribu dan sekarang menjadi 70 ribu sebulan.
Dulu mata air ini dipakai oleh warga di empat dusun di Desa Torobulu. Tapi sekarang hanya digunakan oleh warga di dua dusun di wilayah pesisir karena belakangan airnya berkurang. Warga di dua dusun pesisir tetap memakai air kolam lantaran di dua dusun itu tidak bisa menggali sumur. Kalaupun bisa menggali airnya payau.
Dua dusun yang tidak dialiri air dari kolam memakai air sumur. Selain sumur yang dibuat oleh masing-maisng rumah tangga terdapat juga sumur umum yang dibangun pemerintah. Kondisi air sumur menurut Ayu masih bagus.
Namun sekitar setahun terakhir ketika musim kemarau datang sejumlah sumur menjadi kering. Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Warga yang tergabung dalam Aliansi Peduli Lingkungan Torobulu menduga ini terkait dengan aktivitas penambangan dan penggalian yang dilakukan perusahaan tambang.
Pada Oktober 2023, mata air desa mengering. Kolam berukuran sekitar 20 x 20 meter dengan kedalaman sekira 3-4 meter tersebut airnya asat. Aliansi Peduli Lingkungan Torobulu menduga ini akibat PT WIN menambang di sebelah mata air. Apalagi galian tambangnya lebih dalam daripada kolam mata air. Kejadian ini baru pertama kali terjadi, air di kolam sampai habis.
Warga yang tergabung dalam Aliansi protes ke aparat desa dengan mendatangi kepala desa. Mereka mempertanyakan kejadian tersebut. Musim kemarau dipakai sebagai alasan penyebab keringnya mata air desa.
BACA JUGA: Edisi Khusus Feminisme: Ekofeminisme Perjuangkan Lingkungan Ramah Perempuan
Selang beberapa hari aparat desa berjanji akan mengeruk kolam agar lebih dalam. Ini dilakukan dengan minta bantuan perusahaan tambang. Sekitar seminggu setelahnya kolam kembali berisi air. Warga kembali menggunakan air dari kolam tersebut untukk kebutuhan sehari-hari. Namun kemudian muncul keluhan warga yang merasa gatal-gatal.
Mereka gatal-gatal setelah mandi dengan air dari kolam. Sebelumnya tidak pernah ada keluhan semacam ini. Aliansi melakukan pengecekan, ternyata air kolam sudah dicampur dengan air dari kubangan bekas tambang. Mereka kembali protes dengan mendatangi kepala desa.
“Ternyata setelah dikeruk, air yang keluar masih kurang. Jadi ada inisiatif dari pengelola air untuk memindahkan air dari kolam bekas tambang ke kolam warga,” ujar Ayu.

Akhirnya dilakukan pengurasan dengan menyedot air kolam. Aparat desa dibantu perusahaan untuk mengerjakan ini. Saat mata air mengering lalu tercemar, perusahaan tambang memberi kompensasi untuk warga dengan membagikan air selama dua bulan. Tiap rumah mendapat jatah air satu tower untuk satu minggu. Sementara kebutuhan masyarakat rata-rata dua tower per minggu.
Tiap rumah mendapat jatah kecuali warga yang tergabung dalam Aliansi Peduli Lingkungan Torobulu yang kerap protes terhadap aktivitas tambang perusahaan. Menyikapi hal ini Aliansi lalu protes ke aparat desa. Protes warga ditanggapi aparat desa dengan menyediakan air untuki mereka.
Selama dua bulan dilakukan pembenahan terhadap kolam warga. Namun warga masih merasa was-was karena itu mereka minta aparat desa untuk melakukan pemeriksaan terhadap air di desa.
“Kemarin Kepala Desa minta tolong sama pihak puskesmas kecamatan. Tapi Regen-nya atau alat tesnya itu tidak mencakup semua uji air. Jadi memang dari puskesmas kekurangan bahan itu. Karena kan kalau pihak puskesmas memang tidak melayani diluar program-program mereka,” jelas Ayu.
BACA JUGA: Gerakan Chipko Menginisiasi Perempuan Untuk Menyelamatkan Lingkungan di India
Saat ini kolam mata air kondisinya menurut Ayu jadi hancur. Air dari jalan hauling atau jalan pengangkutan bahan tambang bisa masuk ke dalam kolam. Selain itu perusahaan juga masih melakukan penambangan di dekat mata air.
Sebelum perusahaan memberikan kompensasi air, saat kekeringan warga membeli air tower yang dijual perorangan. Tower memuat air sebanyak 1.200 liter. Harganya untuk air dari dalam desa sebesar 50 ribu sedang kalau yang dari luar desa sebesar 60 ribu. Sementara untuk air minum warga membeli air galon seharga 5 ribu per galon.
Rusaknya sumber mata air warga akibat penambangan nikel oleh korporasi tambang juga dirasakan warga Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara. Wilman, warga Pulau Wawonii mengungkapkan aktivitas tambang di hulu menghancurkan tiga sumber mata air di desanya.
Warga biasa mengonsumsi air tersebut tanpa memasaknya sejak kakek nenek mereka. Sekarang air dari mata air itu bahkan tidak bisa dipakai untuk cuci tangan.
“Yang keluar itu bukan lagi air yang jernih. Sebelumnya itu walaupun kami tidak panasi, kami bisa konsumsi itu. Tetapi setelah perusahaan masuk, bukan lagi nggak bisa dikonsumsi tapi mau gunakan saja untuk cuci tangan tidak bisa. Kenapa? Karena dia sudah bercampur lumpur,” kata Wilman.
Rusaknya mata air menyebabkan para perempuan merasakan beban ganda. “Karena yang tadinya sebelum pergi dari kebun itu tinggal putar keran saja. Sekarang ketika mata air rusaki, dia harus mencari air bersih di tempat yang cukup jauh. Sebelum pergi ke kebun, dia harus cari dulu air bersih lalu memasak. Ketika pergi pulang dari kebun, dia juga harus cari air bersih dulu untuk mandi, membersihkan diri,” paparnya.
Kesehatan Warga Jadi Taruhan
Selain mencemari sumber air, aktivitas tambang nikel juga menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan terhadap warga dan pekerja tambang. Gangguan pernafasan, gangguan pencernaan dan kecelakaan kerja adalah sejumlah penyakit yang dikeluhkan warga saat berobat. Selain itu ibu hamil dengan anemia juga cukup banyak ditemui di sana.
Hardiyanti, dokter yang pernah bertugas di Rumah Sakit Umum Kabupaten Halmahera Tengah, serta puskesmas dan klinik di desa-desa di sana menuturkan pengalamannya kepada Konde.co.
Saat bertugas di rumah sakit Anti ditempatkan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sehingga menangani kasus-kasus darurat. Sementara saat bertugas di puskesmas dan klinik ia menangani kasus rawat jalan.
Selama bertugas dari 2019, Anti melihat pasien perempuan punya keluhan yang mirip dengan gejala-gejala yang dialami orang dewasa pada umumnya. Seperti gangguan pernapasan dan gangguan pencernaan.
Namun ia melihat kondisi ibu hamil yang lebih rentan. Pasalnya mereka masih tetap tinggal di lingkungan yang tidak sehat. Ini menyebabkan komplikasi kehamilan dan proses persalinan.
“Yang terutama itu gejala anemia. Ibu-ibu hamil kekurangan zat besi yang harusnya mereka butuhkan. Untuk ibu-ibu hamil dengan anemia Ini komplikasinya pada saat lahiran itu mengalami pendarahan,” terangnya.
Sementara di Halmahera Tengah belum ada layanan bank darah.
“Kadang kami kesulitan untuk mencari pendonor. Karena di rumah sakit atau di daerah Halteng itu tidak ada PMI, tidak ada stok darah, bank darah. Jadi cukup sulit kalau kami dapati pasien-pasien yang anemia, pendarahan, atau yang mau operasi SC (sesar). Misalnya tidak ada stok darah mereka wajib dari keluarga harus mencari pendonor,” jelas Anti.
Sejauh ini dari kasus yang ada bisa tertangani dengan baik. Meski ada juga pasien yang tidak tertolong walau prevalensinya sangat kecil.
BACA JUGA: Petani Merica Kirim Surat Pada Kaisar Jepang Hironomiya Naruhito: Kecewa dengan Tambang
Di sisi lain keterbatasan alat medis seperti inkubator membuat rumah sakit kesulitan menangani kasus kelahiran prematur.
“Cukup sulit untuk merawat bayi-bayi BBLR. istilahnya berat badan lahir rendah atau bayi-bayi prematur. Maka kalau bayinya sudah lahir, kadang hanya hitungan jam itu sudah meninggal. Tidak bisa tertolong,” ujarnya.
Pada kasus rawat jalan, kebanyakan pasien datang dengan keluhan gangguan pernafasan. Seperti demam, batuk, flu, radang tenggorokan, dan sesak napas. Mereka kebanyakan ada dalam kisaran usia produktif, sekitar 18 hingga 30 tahun.
Untuk pasien dengan gangguan pernapasan, Anti meresepkan obat sesuai dengan keluhan pasien. Dari pengamatannya, pasien yang datang dengan keluhan gangguan pernapasan menunjukkan peningkatan.
“Dulu mungkin kita cuma dapat kasus pneumonia yang parah itu bisa kurang dari 10 atau belasan. Sekarang tuh bahkan sudah mencapai puluhan gitu, jadi kasusnya makin hari memang makin meningkat,” ungkap anti.
Peningkatan ini menurutnya kemungkinan disebabkan beberapa faktor. Seperti polusi di sekitar daerah tambang yang tidak tertangani dengan baik dan ketidakpatuhan masyarakat atau pekerja untuk memakai masker.
Selain itu lingkungan kos-kosan pekerja yang tidak memperhatikan aspek kesehatan juga bisa jadi pemicu. Misalnya ventilasi tidak ada atau kurang, penghuni kamar yang melebihi kapasitas untuk menghemat biaya, dan sebagainya. Hal ini bisa mengakibatkan tingkat penularan lebih tinggi.
Sementara keluhan gangguan pencernaan banyak dialami oleh pekerja tambang. Mereka datang dengan keluhan nyeri ulu hati, mual, muntah, buang-buang air. Keluhan sakit perut tersebut disebabkan oleh dua penyakit utama yaitu maag dan diare. Kebanyakan karena pola makan yang kurang sehat dan tidak teratur.
Untuk kasus emergensi kebanyakan pasien yang datang dirujuk dari klinik perusahaan tambang di Halmahera Tengah. Biasanya pasien sudah dalam kondisi yang parah.
“Jadi untuk kasus-kasus emergensi yang sering mereka rujuk ke rumah sakit itu kasusnya sudah cukup parah atau kritis. Pasien itu dirujuk dengan gangguan pernapasan akut yang memang sudah sulit untuk bernafas, sudah sesak napas,” kata Anti.
BACA JUGA: Kupatan Kendeng: Mengurai Konflik Akibat Tambang dan Ajakan Menjaga Ibu Bumi
Para pasien tersebut ditangani dengan pemeriksaan lengkap, seperti foto thorax dan cek darah di laboratorium. Rata-rata mereka didiagnosis pneumonia. Ini adalah infeksi saluran pernafasan yang disebabkan mikroorganisme dari virus atau bakteri.
Penularan pneumonia cukup masif. Apalagi kalau pekerja tambang tidak memakai masker atau menerapkan protokol keamanan dan keselamatan lainnya. Anti menjelaskan hampir tiap minggu selalu ada kasus-kasus pernapasan berat.
Biasanya pasien sudah membutuhkan oksigen untuk bantuan nafas. Berat badannya juga mengalami penurunan. Untuk bernapas juga sudah susah dan hasil rongentnya menunjukkan penumpukan cairan di paru-paru.
Pada kasus semacam ini biasanya dilakukan konsultasi dengan dokter spesialis yang ada di rumah sakit. Diantaranya dokter spesialis penyakit dalam/internis dan dokter bedah untuk dilakukan tindakan seperti penyedotan cairan yang menumpuk di paru-paru.
Anti menambahkan kasus-kasus kecelakaan kerja juga cukup banyak yang dirujuk ke rumah sakit. Untuk kasus di dalam perusahaan kemungkinan karena penerapan keamanan kerja yang kurang baik atau penggunaan alat pelindung diri yang tidak disiplin.
Kasus-kasusnya misalnya terkena ledakan tungku, tertimpa pohon atau tertimpa alat-alat berat dan sebagainya yang mengakibatkan trauma di bagian-bagian anggota tubuh. Ada juga kasus kecelakaan yang dialami pekerja saat pergi atau pulang kerja.
“Jadi pasien datang dengan kondisi jari-jari tangannya ada yang patah, terus bengkak kakinya dan susah berjalan, macam-macam,” terang Anti.
Pada kasus kecelakaan kerja yang butuh penanganan dengan fasilitas kesehatan yang lengkap biasanya pasien akan dirujuk kembali. Pasalnya alat-alat kesehatan yang tersedia di rumah sakit Halmahera Tengah masih terbatas.
BACA JUGA: Air Sumur Tak Bisa Diminum, Sawah Kena Abu: Perempuan Tani Indramayu Hidup Sengsara Akibat PLTU
“Iya dirujuk kembali kalau memang butuh penanganan kayak kasus kecelakaan yang fraktur atau tulang patah itu kan harus operasi. Nah kami nggak punya alat pen, alat yang di ruang operasi itu nggak ada. Jadi harus dirujuk untuk dilakukan penanganan lebih lanjut. Kami paling penanganan pertolongan pertama saja pada kecelakaan. Yang penting kita stabilkan tanda-tanda vitalnya aja, terus habis itu dirujuk lagi,” paparnya.

Warga yang berobat ada juga yang datang dengan keluhan gatal-gatal di kulit atau dermatitis. Pasien dengan keluhan infeksi kulit ini cukup beragam, mulai dari anak, remaja hingga orang dewasa.
“Ada kasus seperti itu, dermatitis istilahnya kalau dari diagnosis medis, gatal-gatal, merah-merah. Kasusnya memang tidak sebanyak gangguan pencernaan atau gangguan pernapasan, tapi dia ada,” kata Anti.
Saat pasien ditanya tentang riwayat alergi makanan, mereka mengatakan tidak pernah mengalami sebelumnya. Ketika ditanya soal air yang dipakai sehari-hari, dari penuturan mereka kemungkinan air yang mereka ambil dari beberapa lokasi sudah tercemar.
Kendaraan Listrik Untuk Siapa?
Minggu siang 5 Mei 2024, Ayunia, Nursida dan warga desa-desa terdampak tambang menggeruduk Pameran Kendaraan Listrik Periklindo di JIExpo, Kemayoran. Di depan pintu masuk mereka menggelar spanduk, poster dan berorasi.
Mereka bersuara kepada pengunjung, pelaku industri dan pemerintah soal kampung-kampung mereka yang dikeruk, dibongkar dan dirusak untuk mendapatkan bahan-bahan dasar kendaraan listrik.
“Berbagai macam kendaraan listrik ini dipamerkan. Kami ingin memberitahu bahwa banyak komponen dari kendaraan listrik ini menggunakan nikel dan nikel itu diambil dari wilayah kami.” Kata Adlun.
Mereka menggugat dalih transisi energi yang kerap dipakai pemerintah sebagai pembenaran atas pembongkaran kampung-kampung mereka oleh korporasi tambang nikel.
“Mobil listrik tidak seharga nyawa orang-orang Sulawesi!” seru Ayu dengan lantang.
Foto: Aliansi Peduli Lingkungan Torobulu, Jatam, Save Sagea




