Ambisi Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams menggugah kesadaran tentang realitas sosial melalui serial superhero, tampaknya bukan pekerjaan yang mudah. Isu sosial selesai bukan dengan memberantas satu penjahat saja, karena memang bukan itu akar masalahnya. Menyatukannya dalam cerita superhero hanya pemaksaan yang mengecewakan.
Ada satu hal yang jadi premis utama serial ‘Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams‘: manusia memang benar-benar makhluk yang kompleks, makin berevolusi menjadi makhluk yang harus bisa bertahan dalam dunia yang serba rumit. Tiap era memiliki kekhawatirannya sendiri. Jika nenek moyang kita dulu hanya mengkhawatirkan tentang apakah bisa makan hewan buruan, kini manusia memiliki segudang kekhawatiran.
Seperti Panji (Ario Bayu) misalnya, yang tinggal di rusun sempit bersama anak, istri dan ibunya yang demensia. Terpaksa menitipkan sang ibu di panti jompo, Panji dan istrinya sambil menangis menahbiskan diri sebagai “anak durhaka”. Prasangka ini sering melekat pada anak yang menitipkan orang tua di panti jompo, dan kini terjadi pada Panji.
“Orang tua kamu ngurusin kamu kan? Orang tua kamu tidak membuang kamu kan?” Pertanyaan tajam suster di panti kepada Panji seakan ditujukan kepada anak yang menitipkan orang tua di panti jompo. Mungkin saja pesan itu manifestasi kekecewaan sang suster saat dulu ia diantar anaknya untuk tinggal di panti jompo. Tapi nyatanya tidak ada siapapun yang bisa menolong Panji untuk memastikan ibunya yang demensia tidak membahayakan dirinya sendiri dan keluarganya selain panti jompo.
‘Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams‘ yang tayang pada 14 Juni 2024 di Netflix itu merupakan serial yang disebut bergenre fiksi ilmiah-supernatural. Dalam serial ini, Joko Anwar memasukkan isu sosial dan cerita superhero bersamaan. Di sini, superhero disebut dengan Antibodies, dan melawan musuh yang disebut Agarthan.
Baca Juga: Film ‘Yang (Tak Pernah) Hilang’, Memorialisasi Penghilangan Paksa Aktivis 1998
Joko Anwar memang tampak menghadirkan isu yang belakangan menjadi awareness. Seperti kritik terhadap kinerja bea cukai, krisis lapangan kerja, sampai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam serial ini. Seakan-akan menghadirkan isu sosial secara satire namun tetap aman. Tapi isu-isu yang sekelumit itu apakah dihadirkan hanya untuk relate dengan masalah masyarakat saat ini, atau untuk apa?
Setiap episode ‘Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams’ menghadirkan kisah yang berdiri sendiri. Namun semuanya seperti berupaya disatukan oleh benang merah: kehidupan kaum lemah dan marginal. Isu yang sudah usang tapi masih digunakan sebagai bumbu cerita kisah-kisah pembebasan.
Kemiskinan dan ketidakberdayaan seakan-akan menjadi masalah pribadi umat manusia. Padahal ada banyak pihak yang bertanggung jawab atas ketimpangan yang menyebabkan penderitaan tersebut. Walau mungkin tujuannya adalah membuat penonton ikut merasakan dan memahami penderitaan, tapi tetap, klimaks perlawanan ala ‘Power Rangers’ tetap menjadi yang utama.
Baca Juga: Film ‘Ipar adalah Maut’, Hancurnya Rumah Tangga dan Persaudaraan di Waktu Bersamaan
Ya, Antibodies punya masalah masing-masing, dan lawan monster malah jadi pekerjaan tambahan.
Perbedaan dimensi waktu Antibodies pun terkesan terlalu dipaksakan. Salah satunya hanya untuk menceritakan pergulatan hidup korban gusuran yang gigih bertahan di kampung nelayan Jakarta Utara dengan setting tahun 1985. Kenapa harus tahun 1985? Apa mukjizat yang dilakukan Wahyu (Lukman Sardi) sang “nabi” dari tahun 1985 sampai 2024? Bahkan hingga kini warga kampung nelayan masih bergumul dengan kemiskinan dan kekhawatiran penggusuran. Padahal, Wahyu sudah mendapat kekuatan dari malaikat atau yang di serial disebut sebagai Supreme Being. Dari adegan transfer kekuatan yang ‘wah’ itu, tidak terlihat kontribusi Wahyu yang berarti dalam serial.
Pemaksaan lain adalah make up gelap dan cemong berlebihan para aktor hanya untuk menunjukkan kemiskinan. Yang terlihat natural bagi saya adalah akting dari Rusman (Teuku Rifnu Wikana) dengan logat dan cara bicara lugas khas Betawi, seperti menghardik dialog-dialog dominan baku dan tertata yang jauh dari keseharian.
Siapa Sesungguhnya yang Harus Dilawan?
Entitas kaum Agartha digambarkan sebagai penjahat yang ingin mengambil alih bumi permukaan. Tapi tindakan mereka untuk menguasai bumi terlihat seperti iseng saja, memanfaatkan kelemahan manusia di ujung keputusasaan.
Bila mengingat permasalahan personal yang sudah susah payah ditunjukkan para Antibodies di setiap episodenya, pertarungan melawan Agarthan hanyalah bagai solusi sementara. Supaya manusia tidak dimakan, atau menjadi ODGJ, dan ujungnya manusia habis lalu mereka mengambil alih? mungkin. Tapi keterkaitan masalah asli Antibodies dengan Agarthan terlewatkan.
Dalam serial, Agarthan tampak tidak terlibat dalam urusan stigma panti jompo atau penyebaran konten intim non konsensual sang pemain biola muda, misalnya. Terlihat dari dialog antar Agarthan yang sebatas menertawakan sifat manusia dan permasalahan moralnya. Mereka hanya mengeklaim sebagai rantai makanan teratas dan terlihat meraup keuntungan dari masalah yang tidak mereka ciptakan.
Mungkin saya yang terlalu menggebu ingin realitas dihadirkan di serial atau film. Padahal serial ini mungkin lebih baik disikapi seperti serial hiburan tahun 90-an The X-Files, misalnya. Bedanya, hanya ada sedikit kisah sedih detektif Mulder yang dikucilkan rekan kerjanya karena percaya alien sebagai background cerita. Penonton tidak bingung dengan masalah-masalah pemeran protagonis yang tidak memiliki keterkaitan dengan sang antagonis. Lawan dan motifnya jelas, alien. Perlawanan sekian menit kepada Agarthan tampak tidak sesuai dengan beratnya emosional masalah masing-masing Antibodies yang disajikan pada penonton.
Melawan kelompok Agarthan seperti mencari kambing hitam atas semua penderitaan yang dihadapi kaum marginal. Jika Antibodies memiliki kekuatan super, setidaknya penonton berharap bisa mereka gunakan untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri dulu. Karena isu sosial tampaknya tidak bisa selesai dengan hadirnya sosok pahlawan.
(sumber foto: Instagram @jokoanwar)




